Busana Tradisional Sumba Timur

pakaian_adat_sumba.jpgPulau Sumba didiami oleh suku Sumba dan terbagi atas dua kabupaten, Sumba Barat dan Sumba Timur.

Masyarakat Sumba cukup mampu mempertahankan kebudayaan aslinya ditengah-tengah arus pengaruh asing yang telah singgah di kepulauan Nusa Tenggara Timur sejak dahulu kala. Kepercayaan khas daerah Marapu, setengah leluhur, setengah dewa, masih amat hidup ditengah-tengah masyarakat Sumba ash. Marapu menjadi falsafah dasar bagi berbagai ungkapan budaya Sumba mulai dari upacara-upacara adat, rumahrumah ibadat (umaratu) rumah-rumah adat dan tata cara rancang bangunnya, ragam-ragam hias ukiran-ukiran dan tekstil sampai dengan pembuatan perangkat busana seperti kain-kain hinggi dan lau serta perlengkapan perhiasan dan senjata.

Di Sumba Timur strata sosial antara kaum bangsawan (maramba), pemuka agama (kabisu) dan rakyat jelata (ata) masih berlaku, walaupun tidak setajam dimasa lalu dan jelas juga tidak pula tampak lagi secara nyata pada tata rias dan busananya. Dewasa ini perbedaan pada busana lebih ditunjukkan oleh tingkat kepentingan peristiwa seperti pada pesta-pesta adat, upacara-upacara perkawinan dan kematian dimana komponen-komponen busana yang dipakai adalah buatan baru. Sedangkan busana lama atau usang biasanya dipakai di rumah atau untuk bekerja sehari-hari.


Bagian terpenting dari perangkat pakaian adat Sumba terletak pada penutup badan berupa lembar-lembar besar kain hinggi untuk pria dan lau untuk wanita. Dari kain-kain hinggi dan lau tersebut, yang terbuat dalam teknik tenun ikat dan pahikung serta aplikasi muti dan hada terungkap berbagai perlambangan dalam konteks sosial, ekonomi serta religi suku sumba.
Baca selengkapnya… »

Orang Sumba

people_sumba21.jpgOrang Sumba masa kini tidak berbeda jauh dengan orang Sumba dimasa lalu.

Mereka mampu melestarikan bahasa dan budayanya walaupun tak henti-hentinya diduduki dan dikuasai oleh pulau-pulau lain. Ada tiga bahasa yang dipergunakan di pulau Sumba, dua bahasa di Sumba Barat dan satu bahasa di Sumba Timur. Kedua bahasa di bagian barat terbagi lagi atas delapan dialek.

Orang Sumba mudah untuk dikenal dari cara berpakaiannya. Kaum pria mengenakan kain tenun ikat “Hinggi” dililitkan kepinggang dengan ikat pinggang dan parang yang ditancapkan kedalam kain tenun dan ikat pinggang. Mereka juga memakai ikat kepala yang dibuat dari tenun ikat. Kain ikat ditenun menggunakan motif binatang dan manusia. Di Sumba Timur, umumnya tenun ikat berwarna dasar hitam dengan motif berwarna dan di Sumba Barat dengan warna dasar biru. Kaum wanita juga mengenakan kain tenun ikat namun jenis dan bentuknya berbeda yang berupa sarung.

Salah satu ciri orang Sumba adalah keahlian mereka yang luar biasa dalam hal menunggang kuda. Anak-anak sudah mulai belajar menunggang kuda sejak masih kecil. Ketika beranjak dewasa, mereka menunjukkan keahlian ini lewat keikutsertaanya dalam tradisi perang berkuda “Pasola”.
Baca selengkapnya… »

|