SMK Loli di Sumba Barat Lulus Nol Persen

Sekolah Menengah Kejuruan Atau SMK Loli, Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) lulus nol persen. Sebanyak 92 peserta UN di sekolah itu tidak ada yang lulus. Sementara SMAN I Waikabubak, Sumba Barat memiliki lulusan tertinggi. Dari 206 peserta UN, jurusan IPA dan Bahasa Indonesia lulus 100 persen, diikuti 38 siswa. Untuk jurusan IPS 136 siswa lulus 75 persen.

Kadis Pendidikan dan Kebudayaan NTT Toby Uly di Kupang, (19/6) mengatakan, pengumuman kelulusan baru dilakukan Rabu (18/6). Siswa yang lulus melajukan aksi mencoret coret baju dan celana/rok dengan spidol atau cat. Sementara yang tidak lulus tampak menangis. (KOR)

Laporan wartawan Kompas Kornelis Kewa Ama Khayam
Sumber : Kompas.com

Gelombang Tinggi, Kapal Feri Belindung

WAINGAPU, Tiga kapal feri milik PT ASDP rute Kupang- Waingapu dan sebaliknya menunda pelayaran karena tinggi gelombang di Laut Sawu mencapai enam meter. Tiga kapal tersebut, KMP Ile Mandiri berlindung di Ende, KMP Umakalada berlindung di Aimere dan KMP Cucut berlindung Sabu.Informasi ini disampaikan Supervisor PT ASDP Waingapu, Ramadhan, saat dihubung melalui telepon, Senin (23/6/2008). Ramadhan mengatakan, KMP Ile Mandiri yang berangkat dari Kupang, Jumat (20/6/2008),

Menuju Ende dan Waingapu tertahan di Ende, karena gelombang tinggi. Kapal ini, kata Ramadhan, sempat berlayar selama 30 menit, namun kembali ke Nangakeo, Ende karena cuaca buruk. Akibat cuaca buruk, katanya, KMP Ile Mandiri yang seharusnya tiba di Waingapu, Sabtu (21/6/2008) malam, tertunda hingga batas waktu yang beluk ditentukan. Selain KMP Ile Mandiri, dua kapal lainnya yang mengalami nasib sama, yakni KMP Cucut dan KMP Umakalada.
Ramadhan mengatakan, KMP Cucut yang bertolak dari Waingapu menuju Sabu dan Kupang pada Jumat (20/6/2008) pukul 16.00 Wita dan KMP Umakalada dari Waingapu ke Aimere dan Kupang pada Jumat malam, akhirnya memilih berlindung di Sabu dan Aimere.Dikatakan Ramadhan, kedua kapal yang seharusnya tiba di Bolok-Kupang, Minggu (22/6/2008), sampai saat ini masih tertahan di kedua pelabuhan tersebut. Bagi penumpang lanjutan atau penumpang yang turun di pelabuhan terakhir, jelas Ramadhan, makan dan minum ditanggung PT ASDP (Persero).

Baca selengkapnya… »

Pemkab Sumba Barat Rapat Konsultasi Dengan DPRD - Antisipasi Kenaikan Harga Sembako

WAIKABUBAK, Untuk mengantisipasi kenaikan harga bahan kebutuhan pokok (sembako) pasca kenaikan harga BBM, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumba Barat (Sumbar) mengadakan rapat konsultasi di ruang panitia musyawarah (Panmus) DPRD setempat, Sabtu (21/6/2008).
Pertemuan itu dipimpin Ketua DPRD, Alexander Radamata Dapawole. Dari unsur pemerintah hadir Asisten II, Drs. U

mbu Sappi Pateduk, dan beberapa pejabat pemerintah lainnya. Semua sepakat memantau perkembangan fluktuasi harga di pasar. Khusus anggaran proyek pada beberapa instansi pemerintah yang ditetapkan dalam APBD 2008 sebelum kenaikan harga, tetap diakomodir pemerintah dengan menyesuaikan harga yang terjadi saat ini, terutama bahan bangunan.
Drs. Umbu Sappi Pateduk menjelaskan, memasuki era pasar bebas saat ini, pemerintah tidak memiliki kewenangan sedikitpun mengintervensi harga pasar. Harga bahan kebutuhan pokok dan bahan bangunan serta kebutuhan lainnya, kata Pateduk, sepenuhnya ditentukan harga pasar.
Baca selengkapnya… »

Ribut, Evakuasi Pedagang Pasar Matawai

WAINGAPU - Pedagang yang selama ini berjualan di Pasar Matawai, Waingapu menolak dievakuasi ke Pasar Baru di Kambajawa. Reaksi penolakan yang paling menonjol dilayangkan seorang ibu dengan berteriak-teriak menolak pindah ke pasar baru, karena tidak punya uang untuk ongkos angkut barang-barangnya. Angkutan yang dijanjikan pemerintah ternyata tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Mama Minggus menuding pemerintah tidak berpihak kepada masyarakat kecil. Ia menilai pemerintah sesuka hati membuat kebijakan tanpa melihat penderitaan masyarakat kecil seperti dirinya. “Awalnya bilang pemerintah siapkan angkutan untuk angkut kita punya barang-barang. Kenyataannya tidak ada. Kita harus siapkan uang Rp 50.000,00 untuk sewa angkutan. Padahal penghasilan kita pas-pasan,” katanya sedikit emosi.

Dengan terus mengumpat dan mengeluarkan kata-kata kasar, Mama Minggus mondar-mandir tanpa arah. Petugas dari Satuan Pol PP dan sesama pedagang yang berusaha menenangkannya tak dihiraukan. Bahkan ia mengancam akan membunuh siapapun yang menghalangi atau mencoba melerainya.

“Jangan coba-coba larang saya. Saya bunuh orang. Saya bunuh orang. Pemerintah seenaknya suruh-suruh kita pindah, tetapi tidak melihat nasib kita orang kecil,” kata Mama Minggus mengacung-acungkan sebatang kayu yang diujungnya tertancap beberapa paku.

Baca selengkapnya… »

|