stop_kelaparan.jpgKUPANG - Korban tewas akibat gizi buruk di Nusa Tenggara Timur (NTT) bertambah menjadi 23 orang setelah seorang balita warga Kabupaten Sumba Tengah, tewas Sabtu 14 Juni lalu.

Kepala Dinas Kesehatan NTT, Stefanus Bria Seran yang dihubungi di Kupang, Senin (16/6/2008) mengatakan, pihaknya terus berupaya untuk menekan jumlah korban tewas, namun sulit dilakukan karena keterbatasan dana.

Menurut Stefanus, idealnya balita gizi kurang perlu mendapat makanan tambahan selama tiga bulan agar tidak meningkat menjadi gizi buruk. Sedangkan penderita gizi buruk harus mendapat makanan tambahan enam bulan agar status gizi tidak meningkat menjadi busung lapar (Gizi buruk dengan kelainan klinis). Sementara penderita busung lapar harus mendapat makanan tambahan bergisi sembilan bulan berturut-turut.gizi_buruk_ntt.jpg

“Tetapi hal ini tidak dilakukan dengan teratur karena tidak ada alokasi dana yang cukup, baik dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota,” katanya.

Dia menambahkan, penyebab utama meningkatnya kasus gizi buruk di NTT disebabkan karena masalah kemiskinan dan kesulitan ekonomi masyarakat. Kondisi tersebut, menurut Stefanus, dapat dilihat dari pola konsumsi masyakarat, kualitas makanan yang dikonsumsi balita dan ibu hamil/menyusui.

“Kemungkinan besar dari sisi jumlah sangat terbatas, frekuensinya rendah dan kualitas makanan buruk. Sebab, kalau setiap hari seorang ibu hamil/menyusui hanya makan satu kali dengan kandungan gizi yang rendah berdampak langsung pada pertumbuhan fisik balita,” lanjutnya.

Baca selengkapnya… »