<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sumba Island - Media Informasi Pulau Sumba &#187; Sosok</title>
	<atom:link href="http://sumbaisland.com/category/sosok/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sumbaisland.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 16 Jan 2012 04:00:34 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Pegawai Teladan Ditjen Pajak</title>
		<link>http://sumbaisland.com/pegawai-teladan-ditjen-pajak/</link>
		<comments>http://sumbaisland.com/pegawai-teladan-ditjen-pajak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Feb 2011 04:50:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[Sumba Timur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sumbaisland.com/?p=3031</guid>
		<description><![CDATA[DI TENGAH terpuruknya citra institusi pajak akibat mafia pajak yang melibatkan Pegawai Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak, Gayus Tambunan, masih ada pegawai pajak yang berprestasi, dan memiliki dedikasi tinggi terhadap pekerjaan dan tugasnya. Dia adalah Ignatius Tadeus,  pria  yang selama dua tahun memimpin Kantor Pelayanan Pajak Pratama Waingapu ini terpilih sebagai Pegawai Teladan Direktorat Jenderal Pajak, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-3035" style="margin-left: 3px; margin-right: 3px;" title="Ignas-Tadeus" src="http://sumbaisland.com/wp-content/uploads/2011/02/Ignas-Tadeus.jpg" alt="" width="298" height="240" />DI TENGAH terpuruknya citra institusi pajak akibat mafia pajak yang melibatkan Pegawai Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak, Gayus Tambunan, masih ada pegawai pajak yang berprestasi, dan memiliki dedikasi tinggi terhadap pekerjaan dan tugasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia adalah Ignatius Tadeus,  pria  yang selama dua tahun memimpin Kantor Pelayanan Pajak Pratama Waingapu ini terpilih sebagai Pegawai Teladan Direktorat Jenderal Pajak, Departemen Keuangan, tahun 2010 karena prestasi dan dedikasinya terhadap pekerjaan di bidang perpajakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Terpilihnya Ignas, demikian sapaan bagi Kepala Bidang Humas Kanwil Dirjen Pajak Nusa Tenggara di Mataram ini, sebagai pegawai teladan, diumumkan dalam rapat pimpinan nasional Dirjen Pajak di Jakarta, 18 Januari 2011 lalu.</p>
<p style="text-align: justify;">Pria kelahiran Kampung Baluele, Desa Manubura, Kecamatan Nelle, Kabupaten Sikka ini terpilih sebagai pegawai teladan karena prestasinya selama dua tahun memimpin Kantor Pelayanan Pajak Pratama Waingapu.<br />
Dalam kurun waktu dua tahun itumampu  mendongkrak kinerja perpajakan di daerah itu. Selama dua tahun, yaitu tahun 2009 dan tahun 2010, Ignas berhasil melampaui target penerimaan pajak di wilayah Sumba. Tahun 2009, dari  target  Rp 108 miliar, realisasi Rp 142 miliar. Tahun 2010, KPP Waingapu juga kembali melampaui target.  Dari target Rp 163 miliar, realisasi Rp 178 miliar.</p>
<p style="text-align: justify;">Prestasi ini membawa KPP Waingapu menduduki rangking pertama tingkat Kanwil DJP Nusa Tenggara.<br />
Ignas yang ditemui pada saat acara pisah kenal dengan Kepala KPP Pratama Waingapu yang baru, Tjipta Aritonang di Hotel Merlin, Kamis (27/1/2011) malam, tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya mendapat penghargaan sebagai pegawai teladan.</p>
<p style="text-align: justify;">Lelaki yang pernah bertugas di Papua ini mengaku tak menyangka di penghujung kariernya bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi bangsa dan negara.<br />
Ignas selalu berpegang teguh pada moto; Saya Datang Untuk Melayani Bukan Untuk Dilayani. (adiana ahmad)*Pos Kupang</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sumbaisland.com/pegawai-teladan-ditjen-pajak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>NTT Kehilangan Tokoh Lingkungan, Tius Natun</title>
		<link>http://sumbaisland.com/ntt-kehilangan-tokoh-lingkungan-tius-natun/</link>
		<comments>http://sumbaisland.com/ntt-kehilangan-tokoh-lingkungan-tius-natun/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Dec 2010 15:51:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sumbaisland.com/?p=2840</guid>
		<description><![CDATA[KUPANG, Tokoh lingkungan hidup, Thimotius Natun pergi untuk selamanya. Lelaki yang akrab disapa Tius Natun ini menghembuskan nafas terakhir di RSU Prof. Dr. WZ Johannes Kupang, Kamis (16/12/2010) pukul 17 50 Wita, setelah menjalani perawatan selama dua hari. Tius Natun menderita sakit komplikasi jantung dan paru-paru. Almarhum meninggalkan seorang istri, tujuh orang anak, 16 cucu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">KUPANG, Tokoh lingkungan hidup, Thimotius Natun pergi untuk selamanya. Lelaki yang akrab disapa Tius Natun ini menghembuskan nafas terakhir di RSU Prof. Dr. WZ Johannes Kupang, Kamis (16/12/2010) pukul 17 50 Wita, setelah menjalani perawatan selama dua hari.</p>
<p style="text-align: justify;">Tius Natun menderita sakit komplikasi jantung dan paru-paru.<br />
Almarhum meninggalkan seorang istri, tujuh orang anak, 16 cucu dan 2 cece. Jenazahnya disemayam di rumah duka, Jalan Aeniba I, Perumnas, Kelurahan Nefonaek.</p>
<p style="text-align: justify;">Tius Natun lahir di E&#8217;ekam Kotabes-Amarasi, Kabupaten Kupang, 10 November1936. Mendengar Tius Natun meninggal, kerabat kenalan langsung mendatangi RSU Kupang. Ruang Instalasi Pemulazaran Jenazah (IPJ) diliputi suasana duka.</p>
<p style="text-align: justify;">Fery Natun, anak kedua almarhum, saat ditemui di IPJ RSU Kupang, menjelaskan, selama hidupnya almarhum selalu memberitahu kepada semua orang untuk selalu menanam pohon. Hal itu sesuai dengan prinsip hidup almarhum yakni cintailah tanah, peganglah tanah dan ciumlah tanah.</p>
<p style="text-align: justify;">Di mata masyarakat alamarhum dikenal sebagai tokoh lingkungan hidup karena selama masa hidupnya selalu memperhatikan lingkungan. Tius Natun selalu menanam, seperti yang ia lakukan sepanjang jalur jalan El Tari Kupang.</p>
<p style="text-align: justify;">Fery Natun menuturkan, ayahnya mulai melakukan penghijaun saat menjadi pegawai negeri sipil pada Dinas Pekerjaan Umum Pulau Timor pada tahun 1957. Waktu itu, Propinsi NTT belum terbentuk.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah NTT menjadi propinsi pada tahun 1958, almarhun menjadi pegawai di Dinas Pekerjaan Umum (PU) NTT. Dengan tekad dan niat yang tinggi, almarhum mencoba melakukan penghijaun pertama sepanjang jalan El Tari I, depan kantor Gubernur NTT. Upaya itu ia lakukan pada tahun 1980 setelah mendapat izin dari Gubernur NTT, dr. Ben Mboi.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut Fery, ayahnya melakukan penghijaun karena melihat Kupang sebagai daerah yang sangat panas. Almarhum telah menanam pohon cemara di bundaran PU karena menurut almarhum cemara adalah bukti kasih. Usaha almarhum itu kemudian dijadikan slogan untuk Kota Kupang sebagai Kota KASIH.</p>
<p style="text-align: justify;">Kepeduliannya terhadap lingkungan, menghantar Tius Natun mendapat sejumlah penghargaan, diantaranya, sebagai pembina lingkungan hidup dari Gubernur NTT, Ben Mboi pada tahun 1989. Pada tahun 1990, mendapat penghargaan dari Pangdam Udayana Bali sebagai tokoh masyarakat NTT. Dan, pada tahun 2003 mendapat penghargaan dari Walikota Kupang sebagai tokoh lingkungan hidup. (hh)  *Pos Kupang</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sumbaisland.com/ntt-kehilangan-tokoh-lingkungan-tius-natun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ignatius-Maria Harumkan Nama NTT</title>
		<link>http://sumbaisland.com/ignatius-maria-harumkan-nama-ntt/</link>
		<comments>http://sumbaisland.com/ignatius-maria-harumkan-nama-ntt/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Aug 2010 03:12:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sumbaisland.com/?p=2348</guid>
		<description><![CDATA[IGNATIUS Christian Djawa Kadju dan Maria Gaudensia Sore, dua anak NTT, mengharumkan nama  Nusa Tenggara Timur (NTT) di Jakarta. Keduanya bersama 64 anak daerah lainnya diberikan kepercayaan untuk menjadi anggota paskibraka tahun 2010. Ignatus Christia Djawa Kadju, siswa SMAK Syuradikara, Senin (16/8/2010) pagi, serius menjalankan gladi bersih di Istana Negara. Begitupun Maria Gaudensia Sore, siswi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">IGNATIUS Christian Djawa Kadju dan Maria Gaudensia Sore, dua anak NTT, mengharumkan nama  Nusa Tenggara Timur (NTT) di Jakarta. Keduanya bersama 64 anak daerah lainnya diberikan kepercayaan untuk menjadi anggota paskibraka tahun 2010.</p>
<p style="text-align: justify;">Ignatus Christia Djawa Kadju, siswa SMAK Syuradikara, Senin (16/8/2010) pagi, serius menjalankan gladi bersih di Istana Negara. Begitupun Maria Gaudensia Sore, siswi SMKN II Ende,  juga serius menjalankan tugasnya. Keduanya merupakan 66 remaja pilihan dari 32 propinsi di Indonesia yang akan melaksanakan tugas untuk menaikkan sang saka merah putih pada Selasa (17/8/2010) pagi.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignright size-full wp-image-2358" style="margin-left: 3px; margin-right: 3px;" title="Ignatius-Maria" src="http://sumbaisland.com/wp-content/uploads/2010/08/Ignatius-Maria.jpg" alt="" width="211" height="192" />Sama seperti 66 anak daerah lainnya yang mewakili daerahnya, Ignas dan Maria juga bertekad dapat melaksanakan tugasnya pada hari-H dengan sebaiknya. Keduanya pun bangga karena bisa mewakili anak NTT untuk menjadi anggota paskibraka dalam upacara HUT RI 17 Agustus 2010.</p>
<p style="text-align: justify;">Tante kandung Maria, Filomena Wangu, dan suaminya, Atonius Rabu, dihubungi Pos Kupang melalui telepon genggamnya, Senin (16/8/2010) siang, mengatakan, sejak kecil Maria sudah tinggal bersama mereka di Kota Ende.</p>
<p style="text-align: justify;">Filomena adalah saudari kandung dari ayah Maria. Sementara itu ayah ibu Maria, Petrus Baba dan Teresia Nona, menetap di kampung. &#8220;Kami bangga karena adik kami bisa mewakili NTT, semoga dia bisa melaksanakan tugasnya dengan baik. Kakak Maria sebelumnya juga adalah anggota paskibraka,&#8221; kata Filomena.</p>
<p style="text-align: justify;">Filomena, guru SD di Ende ini mengaku telah membesarkan dan mendidik Maria sejak kecil. &#8220;Sayalah yang membesarkannya dan saya bangga karena dia bisa menunjukkan kemampuannya,&#8221; kata Filomena.</p>
<p style="text-align: justify;">Setiap tahun, ratusan pelajar dari berbagai wilayah di Indonesia  disaring secara ketat di setiap propinsi untuk mengikuti seleksi sebagai Pasukan Pengibar Bendera Pusaka.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka yang berhasil terpilih mewakili daerahnya akan menjalani pelatihan dan karantina di daerah Cibubur. Selama satu bulan ini seluruh peserta digodok dan dilatih cara baris-berbaris dengan benar, serta disiplin yang tinggi. (vel)*Pos Kupang</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sumbaisland.com/ignatius-maria-harumkan-nama-ntt/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mariana Kareri Hara, Mengajar Sambil Gendong Anak</title>
		<link>http://sumbaisland.com/mariana-kareri-hara-mengajar-sambil-gendong-anak/</link>
		<comments>http://sumbaisland.com/mariana-kareri-hara-mengajar-sambil-gendong-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Jul 2010 02:18:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sumbaisland.com/?p=2222</guid>
		<description><![CDATA[SEORANG perempuan hitam manis dengan wajah polos tanpa make up. Pakaian seadanya, agak lusuh, rambutnya dikonde. Sosoknya tidak berbeda jauh dengan perempuan Sumba yang belum tersentuh modernisasi. Beralaskan sandal jepit, sambil menggendong bayinya,  ia berdiri tegak bak seorang guru profesional di depan anak-anak berseragam putih merah dalam ruangan berukuran sekitar 4 x 6 meter. Dia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">SEORANG perempuan hitam manis dengan wajah polos tanpa make up. Pakaian seadanya, agak lusuh, rambutnya dikonde. Sosoknya tidak berbeda jauh dengan perempuan Sumba yang belum tersentuh modernisasi.<br />
Beralaskan sandal jepit, sambil menggendong bayinya,  ia berdiri tegak bak seorang guru profesional di depan anak-anak berseragam putih merah dalam ruangan berukuran sekitar 4 x 6 meter.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia adalah Mariana Kareri Hara (39), perempuan masa kini yang rela mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan anak-anak di daerah terbelakang, yang tidak tersentuh oleh kabijakan pendidikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Di atas meja di hadapannya, ada tumpukan batu seukuran bola pingpong.  Sesekali ia memanggil nama para bocah di hadapannya dan menyuruh mereka menyelesaikan beberapa soal berhitung yang ada di papan tulis berwarna hitam ukuran 1x 2 meter itu. Satu persatu bocah berseragam putih merah itu maju ke depan mengambil batu di atas meja dan mulai menghitung. Setelah menghitung, mereka menuju papan tulis dan menyelesaikan soal-soal yang diberikan Mariana.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignright size-full wp-image-2223" style="margin-left: 3px; margin-right: 3px;" title="mariana-kareri-hara" src="http://sumbaisland.com/wp-content/uploads/2010/07/mariana-kareri-hara.jpg" alt="mariana-kareri-hara" width="297" height="283" />Dalam keterbatasan, Mariana tetap bersemangat. Tidak tampak ada kelelahan pada raut wajahnya. Juga tidak ada keluhan keluar dari mulutnya. Bayi yang ada dalam gendongannya juga diam seakan memahami pekerjaan yang sedang dijalani sang bunda. Meskipun sesekali bayi itu menangis karena kehausan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tatkala sang bayi menangis, Mariana harus bergegas mencari air untuk menenangkan sang bayi. Kemudian ia kambali ke kelas untuk membimbing anak didiknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mariana bukan tamatan sekolah guru atau sarjana pendidikan.  Keadaanlah yang memaksanya untuk berdiri menjadi guru. Ia rela meninggalkan keluarga dan menghabiskan waktu di depan anak didiknya hanya karena prihatin terhadap sekolah yang letaknya tidak jauh dari rumahnya ini, SD Mbatapuhu, Kecamatan Haharu, yang sering tidak ada gurunya. Padahal, dia digaji oleh  WVI, bukan digaji sekolah atau Dinas Pendidikan Kebupaten Sumba Timur.</p>
<p style="text-align: justify;">Mariana  mengabdi di sekolah tersebut sejak tahun 2000 lalu.<br />
Awalnya, Mariana perempuan berambut lurus ini, hanya mengajar di Taman Belajar Anak (TBA) Praimarada bentukan WVI. Namun karena melihat sekolah anak didik di SD Masehi Mbatapuhu sering berkeliaran pada jam belajar karena tidak ada guru, maka ia merasa terpanggil untuk mengabdi di sekolah itu. &#8220;Saya kasihan dengan anak-anak. Pada tahun 2000 hanya ada dua guru PNS di sini. Padahal di sini ada enam kelas dengan 93 siswa. Kalau guru tidak ada, anak-anak berkeliaran. Sampai sekarang kondisi itu masih terjadi. Jika guru-guru lain tidak masuk, saya terpaksa tangani kelas satu sampai kelas enam,&#8221; demikian Mariana.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Butuh kesabaran</strong><br />
Mariana menuturkan, kondisi ini butuh kesabaran untuk mendidik anak-anak di sekolah tersebut. Faktor jarak tempuh anak-anak dari rumah ke sekolah membuat anak-anak malas ke sekolah. Tidak hanya sekadar jarak, untuk sampai di sekolah anak-anak harus turun naik bukit. Jika sekolah atau guru tidak proaktif untuk menjemput, pendidikan anak-anak di daerah itu akan terbengkalai.<br />
Kondisi tersebut memaksa sekolah atau  guru  seperti Mariana untuk mengalah. Jam belajar harus diundur atau guru harus turun naik bukit mencari siswa.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kadang-kadang jam belajar harus diundur. Proses belajar mengajar seharusnya pukul 07.00 Wita. Namun kadang-kadang mundur karena harus menunggu siswa. Jika kita tidak tunggu,  mereka yang datang terlambat tidak akan mau masuk kelas,&#8221; kata Mariana. Bahkan, kata Mariana, dirinya terpaksa  menjemput anak-anak didiknya sampai di balik bukit atau rumah.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia mengaku, setiap hari harus berdiri di bukit yang ada di belakang sekolahnya untuk memantau para mridnya yang muncul dari balik bukit. &#8220;Kalau saya yang lihat duluan, saya langsung memanggil mereka supaya mereka tidak pulang,&#8221; ungkap Mariana.<br />
Menunjang pekerjaannya sebagai guru, Mariana saat ini tengah kuliah lagi di PGSD. Namun kuliahnya terancam putus di tengah jalan karena kesulitan biaya. &#8220;Penghasilan saya hanya Rp 380 ribu. Sementara biaya registrasi untuk satu semester Rp 1 juta. Belum lagi saya harus membiayai keluarga dan pendidikan anak yang sudah masuk SMA,&#8221; katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kondisi di SD Mbatapuhu ini menggambarkan  sektor pendidikan di Sumba Timur masih memprihatinkan. Padahal dana untuk sektor pendidikan baik dari APBN maupun APBD Kabupaten Sumba Timur di atas 30 persen.<br />
Kekurangan tenaga pengajar masih terjadi di mana-mana. Belum lagi guru yang mulai beralih profesi dari pendidik menjadi tukang urus proyek. Dinas Pendidikan lebih fokus urus proyek daripada peningkatan kualitas anak didik dan kualitas guru.<br />
Guru-guru lebih senang berkumpul di kota dengan alasan keluarga atau ikut suami. Kondisi ini diperparah oleh sikap permisif dari pemerintah daerah karena alasan kemanusiaan. Sekolah-sekolah yang ada di pelosok dan jauh dari jangkauan pengambil kebijakan menjadi korban. SD Masehi Mbatapuhu dan kondisi yang dialami Mariana merupakan gambaran dari sistem pendidikan yang buruk di Sumba Timur. (adiana ahmad)*Pos Kupang</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sumbaisland.com/mariana-kareri-hara-mengajar-sambil-gendong-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Atlet KKI Jaga Nama NTT</title>
		<link>http://sumbaisland.com/atlet-kki-jaga-nama-ntt/</link>
		<comments>http://sumbaisland.com/atlet-kki-jaga-nama-ntt/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Mar 2010 15:20:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita NTT]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sumbaisland.com/?p=1986</guid>
		<description><![CDATA[KUPANG, Ketua Umum Pengprop KKI NTT, Drs. Haji Abdulkadir Makarim, mengharapkan para atlet KKI NTT yang mengikuti Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Senior Piala Kasad ke-10 di Surabaya, Jawa Timur, 26-28 Maret 2010, untuk menjaga nama NTT. Nama NTT dijaga dengan bermain sebaik mungkin guna meraih prestasi demi mengharumkan nama NTT. &#8220;Saya mengharapkan para atlet untuk bertanding [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-1987" style="margin-left: 3px; margin-right: 3px;" title="forki" src="http://sumbaisland.com/wp-content/uploads/2010/03/forki.jpg" alt="forki" width="120" height="160" />KUPANG, Ketua Umum Pengprop KKI NTT, Drs. Haji Abdulkadir Makarim, mengharapkan para atlet KKI NTT yang mengikuti Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Senior Piala Kasad ke-10 di Surabaya, Jawa Timur, 26-28 Maret 2010, untuk menjaga nama NTT. Nama NTT dijaga dengan bermain sebaik mungkin guna meraih prestasi demi mengharumkan nama NTT.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Saya mengharapkan para atlet untuk bertanding sebaik-baiknya dengan tetap menjunjung tinggi sportivitas. Karena keikutsertaan dalam kejuaraan ini membawa nama NTT,&#8221; katanya</p>
<p style="text-align: justify;">Makarim yang dihubungi ke ponselnya, Selasa (23/3/2010), mengatakan, Pengprop Forki NTT mestinya harus bertanggungjawab atas pengiriman atlet ke kejurnas ini, karena kejuaraan ini membawa nama Forki NTT.</p>
<p style="text-align: justify;">Wujud tanggung jawab itu ialah dalam bentuk dukungan dana. &#8220;Tapi dari Forki tidak ada dana. Mungkin karena pengurusnya belum musda,&#8221; kata Makarim.<br />
(kas)*Pos Kupang</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sumbaisland.com/atlet-kki-jaga-nama-ntt/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Semoga Sumba-ku Mendunia</title>
		<link>http://sumbaisland.com/semoga-sumba-ku-mendunia/</link>
		<comments>http://sumbaisland.com/semoga-sumba-ku-mendunia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Aug 2009 13:03:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sumbaisland.com/?p=1354</guid>
		<description><![CDATA[PATER Robert Ramone, C.Ss.R. Kepeduliannya untuk melestarikan budaya Sumba tak pernah lekang. Mewujudkan mimpinya itu, pastor kelahiran Kodi, Sumba Barat Daya, 29 Agustus 1962, ini menggagaskan mendirikan lembaga studi dan pelestarian budaya. Fokusnya budaya Sumba. Mengapa? Di tanah humba itu sudah ada tanda-tanda degradasi nilai budaya. Kendur dan luntur, seperti gaya hidup bebas. Ada sinyal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-1355" style="margin-left: 5px; margin-right: 5px;" title="PATER Robert Ramone" src="http://sumbaisland.com/wp-content/uploads/2009/08/pater_robet_ramone.jpg" alt="pater_robet_ramone" width="181" height="139" />PATER Robert Ramone, C.Ss.R. Kepeduliannya untuk melestarikan budaya Sumba tak pernah lekang. Mewujudkan mimpinya itu, pastor kelahiran Kodi, Sumba Barat Daya, 29 Agustus 1962, ini menggagaskan mendirikan lembaga studi dan pelestarian budaya. Fokusnya budaya Sumba.</p>
<p>Mengapa? Di tanah humba itu sudah ada tanda-tanda degradasi nilai budaya. Kendur dan luntur, seperti gaya hidup bebas. Ada sinyal bahaya bahwa orang tercabut dari akar budayanya dan menggantinya dengan kebudayaan baru yang tidak sepenuhnya cocok atau diterima masyarakat umum.</p>
<p>Kapan lembaga yang juga berfungsi sebagai pengkajian ini didirikan? &#8220;Bila tak ada halangan, tahun ini didirikan. Tanahnya sudah ada,&#8221; kata Pater Robert kepada Pos Kupang melalui seluler dari Weetebula, pekan lalu.</p>
<p><img class="size-full wp-image-1356 alignright" style="margin-left: 4px; margin-right: 4px;" title="PATER Robert Ramone" src="http://sumbaisland.com/wp-content/uploads/2009/08/paterrobet_ramone.jpg" alt="paterrobet_ramone" width="132" height="135" />Pater Robert menyebut misi lain lembaga budaya itu untuk mengadakan studi dan penelitian. Pun, pengkajian dan sintesa yang berkaitan dengan budaya asli Sumba. Dan, pada gilirannya nilai-nilai budaya tersebut dijaga dan dilestarikan.</p>
<p>Mendahului kiprah besarnya itu, Pater Robert telah meluncurkan website: www. sumbaculture.org  untuk mempromosikan Sumba ke seantero  jagat. Website ini telah diluncurkan 15 Juli 2009 lalu. &#8220;Semoga melalui website ini, Sumba-ku, dapat dikenal luas dan mendunia,&#8221; demikian harapan pastor yang kini bekerja di Rumah Retret Santo Alfonsus Weetebula itu.</p>
<p>&#8220;Website ini sebagai bagian dari keberadaan lembaga studi dan pelestarian budaya Sumba yang hendak kami dirikan itu,&#8221; tambah fotografer kultur ini. Mau tahu tentang budaya Sumba? Klik saja www. sumbaculture.org! (eni)</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>Copyright: Pos-kupang.com</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sumbaisland.com/semoga-sumba-ku-mendunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cari Kepuasan dalam Tulisan</title>
		<link>http://sumbaisland.com/cari-kepuasan-dalam-tulisan/</link>
		<comments>http://sumbaisland.com/cari-kepuasan-dalam-tulisan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Mar 2009 17:02:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sumbaisland.com/?p=986</guid>
		<description><![CDATA[MEMASUKI masa pensiun bukan berarti akhir berkarya. Pensiun bukan berarti berhenti dari segala macam aktivitas. Ini pula yang menjadi pemikiran dari Ir. Umbu Pura Woha. Bagi pria kelahiran Wualanda, Mangili, Kabupaten Sumba Timur, 22 Oktober 1936 ini, sisa hidup yang masih dianugerahkan Tuhan, harus dimanfaatkan dengan berkarya untuk generasi mendatang. Dia memilih menulis sebagai karya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><img class="alignleft size-full wp-image-987" style="margin-left: 4px; margin-right: 4px;" title="umbu_pura_woha" src="http://sumbaisland.com/wp-content/uploads/2009/04/umbu_pura_woha.jpg" alt="umbu_pura_woha" width="140" height="169" />MEMASUKI</strong> masa pensiun bukan berarti akhir berkarya. Pensiun bukan berarti berhenti dari segala macam aktivitas. Ini pula yang menjadi pemikiran dari Ir. Umbu Pura Woha. Bagi pria kelahiran Wualanda, Mangili, Kabupaten Sumba Timur, 22 Oktober 1936 ini, sisa hidup yang masih dianugerahkan Tuhan, harus dimanfaatkan dengan berkarya untuk generasi mendatang. Dia memilih menulis sebagai karya dalam di masa tuanya. Faktor usia baginya bukan menjadi penghalang. Bahkan pengalaman semasa mengabdi baik sebagai pejabat eksekutif maupun duduk di bangku legislatif telah membuatnya banyak ide untuk mengisi masa-masa tua.  Sebagai putra asal Pulau Sumba, Umbu Pura Woha memilih menulis tentang tanah asalnya. Sumba yang eksotik dan kaya akan budaya ternyata belum banyak ditulis. Kekurangan karya- karya tulis itulah yang mendorong Umbu Pura Woha menulis dua buku yakni Sejarah, Musyawarah dan Adat Istiadat Sumba Timur dan Sejarah Pemerintahan di Pulau Sumba. Bukan itu saja, sarjana pertanian pertama dari Pulau Sumba ini juga kini sedang menyusun cerita-cerita rakyat dan dongeng asal Pulau Sumba. Untuk mengetahi lebih banyak tentang sosok motivasi da tujuan menulis, berikut petikan perbincangan Pos Kupang dengan Umbu Pura Woha belum lama ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Anda telah menulis dua buku. Setidaknya itu menjadi referensi bagi generasi masa kini dan masa yang akan datang. Apakah sudah lama direncanakan?</strong><br />
Semasa masih aktif sebagai pegawai negeri sipil, saya tidak berpikir untuk menulis buku. Tapi saat memasuki masa pensiun baru terpikirkan oleh saya. Sebenarnya niat saya menulis buku ini adalah saya melihat tulisan-tulisan mengenai Sumba sangat sedikit. Dari situ saya mulai berpikir, kenapa saya tidak menulis tentang Sumba? Saya mulai dan dapat mengumpulkan banyak dokumen. Banyak dokumen terutama yang dikumpulkan bapak almarhum Dr. Umbu Hina Kapitan, maka saya pikir ada baiknya mengisi waktu itu dengan menulis. Saya mulai dengan tulisan referensi buku yang sebenarnya yang sudah umum, misalnya mengenai Sumba. Mungkin adat istiadatnya banyak yang sudah ditulis tapi tidak utuh semua, sehingga masih tetap memegang buku Bapak Umbu Hina Kapitan. Tapi buku itu dalam bahasa Sumba. Nah, langkah awal saya adalah menerjemahkan buku karangan Bapak Umbu Kapitan. Saya terjemahkan dulu ini buku ini ke dalam Bahasa Indonesia karena buku ini orang Sumba sendiri tidak bisa baca. Pertama karena bahasa yang digunakan bahasa Sumba kambera, Sumba Wajewa dan ada beberapa bahasa sub praja di Sumba. Jadi buku tebal itu walaupun dalam bahasa Sumba, orang Sumba tidak bisa baca karena dalam bentuk bahasa baitan, kalau Sumba bisa dikatana wunan, lulun, bahasa adat sehingga memerlukan pengertian. Untungnya, Umbu Hina kapitan bisa meninggalkan untuk generasi berikut yaitu kamus Sumba Kambera ke Bahasa Indonesia dan kamus-kamus dalam bentuk ungkapan-ungkapan yang artinya lawiti yang menurut James Fox, itu bentuk pasangan atau bahasa yang berpasangan. Bahasa ini agak sulit dimengerti kalau tidak paham. Jadi pertama saya terjemahkan buku itu, lalu saya tawarkan ke Bupati, Ir. Mehang Kundang dan langsung diterima dan dijadikan satu proyek penerbitan buku.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Anda menulis tentang pemerintahan di Sumba. Dari mana Anda mendapat data-data itu?</strong><br />
Saya mendapatkan dari kalangan pemerintah karena mereka menyimpan arsip-arsip. Di kalangan pemerintah banyak tersimpan arsip-arsip, tapi secara terlepas-lepas. Kebiasaan menyusun suatu memori atau laporan tahunan yang mengkaitkan semua kegiatan itu dalam bentuk kegiatan terpadu sehingga menjadi dokumen itu masih kurang. Itu terjadi di kalangan pemerintah, sehingga menjadi kesulitan juga bagi orang yang membutuhkan dokumen itu. Saya juga mengalami hal yang sama. Kelemahan lain, ada kepala daerah yang memorinya di waktu selesai dia tulis dengan baik dan diperbanyak. Tapi ada juga memori yang dirangkap empat saja dan dipakai waktu serahterima saja. Serahkan satu ke gubernur, satu ke bupati dan sebagainya. Jumlahnya terbatas baik yang sudah cetak dan diperlukan menjadi dokumen dan diketahui itu bagus, sehingga mau susun satu sejarah yang dalam masa yang panjang itu tinggal baca memori-memori yang utuh menjadi satu kesatuan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Mengapa Anda memilih menulis buku?</strong><br />
Nah, itu juga saya pikir ada baiknya ada waktu dan Tuhan masih memberikan kesehatan dan kesempatan maka saya berusaha menyusun. Tentu saja karena harus mencari penerbit. Banyak juga banyak orang yang tidak suka menulis buku karena royaltinya hanya 20 persen. Sebelumnya hanya 10 persen. Tapi itu dikasih kalau bukunya sudah laku, kalau bukunya tidak laku ya tidak apa-apa. Seperti Prof. Alo Liliweri bilang, tidak ada yang kaya dengan menulis buku. Tetapi bukan kekayaan yang dikejar, tetapi kepuasan batin karena bisa meninggalkan catatan atau dokumen untuk generasi yang akan datang. Itu menurut saya yang pokok.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Apa yang paling paling membuat Anda bahagia dengan buku tulisan Anda?</strong><br />
Bisa menulis buku saja sudah membuat saya bahagia, apalagi kalau tulisan kita dikutip oleh penulis yang lain juga merupakan kebanggaan tersendiri, walaupun dari segi pendapatan mungkin tidak terlalu merangsang. Tapi kepuasan menulis itu yang dicari. Cuma sebenarnya kita perlu umpan balik atau tanggapan dari pembaca mengenai buku itu dan biasanya diadakan bedah buku dan sebagainya. Dari situ kita bisa dapatkan umpan balik. Tapi yang penting juga seperti dalam pengantar selalu dikatakan siap menerima kritik dan saran perbaikan. Biasanya tidak ada itu. Tapi itu baik agar cetakan berikut buku bisa lebih baik seperti perbaikan kesalahan teknis, menulis, kesalahan redaksi dan kesalahan data bisa diperbaiki untuk terbitan berikutnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Mengisi waktu dengan menulis juga merupakan pekerjaan yang sehat juga. Berapa lama Anda selesaikan buku ini?</strong><br />
Tergantung dari lengkapnya data. Kalau namanya sejarah perlu banyak dokumen, tapi banyak foto-foto itu adalah dokumen pribadi. Karena dulu waktu saya masih muda, saya selalu bawa tustel dan suka foto-foto. sehingga susudah 30 tahun kemudian foto itu memiliki nilai historis. Tetapi kalau tidak ada tulisan juga sama juga tidak ada guna juga, ditulis sehingga diketahui oleh orang lain. Kalau masalah dokumentasi ini, kita mestinya belajar dari pemerintah penjahan Belanda dulu yang selalu mendokumentasikan setiap kegiatan atau peristiwa. Seperti ke pastor dan pendeta. Mereka itu menulis apa yang mereka lihat, apa yang mereka dengar, apa yang mereka alami dan apa yang mereka perbuat selama melakukan perjalanan dan berada di tempat tertentu. Sehingga dalam dokumen-dokumen itu ada yang disebut laporan perjalanan. Kalau kita, hal-hal yang demikian dianggap sudah biasa, jadi seolah-olah semua sudah tahu. Tetapi setelah 50 tahun kemudian, belum tentu orang sudah tahu. Mengenai dokumentasi ini pernah disampaikan oleh Pak Ben Mboi saat ia jadi gubernur, yaitu setiap kepala dinas harus buat laporan perjalanan. Ya karena tidak ada yang baca, orang tidak menulis lagi. Padahal tidak dibaca juga tidak apa-apa yang penting menulis dan menjadi dokumen.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Butuh berapa waktu untuk menyelesaikan buku tentang Sumba?</strong><br />
Tidak sampai setahun. Saya mulai itu sejak Oktober 2007. Sebenarnya sudah bisa dicetak Juli 2008, tapi harus mencari dana lagi untuk mencetak buku ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Dalam buku ini, pesan apa yang ingin Anda sampaikan untuk masyarakat NTT?</strong><br />
Pertama, kaum terpelajar itu cintailah daerah sendiri dengan cara mendokumentasikan daerahnya. Sama dengan cinta tanah air. Sehingga orang kenal, orang tahu. Kalau bukan generasi sekarang ya generasi kemudian, sehingga berdasarkan itu banyak kalangan yang membeli buku ini. Buku ini baik untuk generasi muda yang mereka tidak tahu terjadi pada waktu-waktu yang lalu. Bung Karno juga pernah bilang jangan melupakan sejarah. Sehingga cetakan pertama in saya pasarkan di Kupang dulu. Karena di sini konsentrasi pelajar mahasiswa. Apakah mereka tertarik atau tidak, itu tidak jadi masalah. Dan, kalau ke toko- toko buku itu, buku ini tidak ada, jadi termasuk buku langka juga. Banyak pendapat yang bilang generasi muda harus memiliki buku ini untuk mengetahui perjalanan sejarah.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Apakah Anda hanya menjelaskan tentang Sumba dalam buku ini?</strong><br />
Dalam buku ini saya tidak fokus pada Sumba saja, karena ada dimensi nasional, ada sejarah Indonesia, ada dimensi sejarah regionalnya NTT, dan Indonesia bagian timur dan dimensi- dimensi lokal yakni Pulau Sumba. Dalam buku ini juga ada data mengenai gubernur-gubernur yang dilantik tanggal berapa, ada yang ditulis tanggal pelantikannya, ada yang hanya masa jabatannya. Kemudian ketua-ketua DPRD, hanya anggota DPRD Propinsi saya tidak tulis, hanya anggota DPR di Pulau Sumba ada semua. Dari daftar anggota DPRD Kabupaten itu, hanya satu masa jabatan di Sumba Timur yang saya tidak miliki data. Tapi ada yang mulai kasih tahu-kasih tahu siapa-siapa. Sumba barat itu ada tiga masa jabatan yang tidak ada yaitu 1971-1977, 1977-1982 dan lebih dulu dari itu yakni 1966-1971 juga tidak ada. Sebab sudah hampir semua sudah meninggal, ada juga yang masih hidup dan saya pernah wawancara tapi sudah tidak ingat lagi.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Anda memiliki latar belakang pendidikan pertanian, mengapa Anda tidak menulis sejarah perkembangan pertanian di NTT?</strong><br />
Terpikir juga, tapi saya masih kumpul data. Semasa aktif di kantor Dinas Pertanian, saya pernah diminta oleh Undana untuk menyusun kurikulum untuk Fakultas Pertanian tentang petanian lahan kering. Saya juga pernah ikut simposium internasional tentang pertanian yang digelar di Kupang oleh salah satu universitas di Salatiga. Sebenarnya banyak hal yang saya bisa tulis, tapi saya mesti fokus. Apalagi kemajuan ilmu pertanian sangat cepat, jangan sampai ilmu saya sudah out of date. Tapi dasar-dasar ilmu itu tidak berubah. Saya punya rencana untuk tulis buku tentang sejara petanian tapi harus temukan dulu fokus apa yang mau ditulis. Mengenai pertanian itu memang, saya belum berani juga kecuali sebagai dokumen dan pengetahuan dasar karena ilmu berkembang terus dengan pesat setiap saat sekarang.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Apakah Anda masih merencanakan menulis buku lagi?</strong><br />
Saya mau menulis buku lagi, tetapi masih tenang budaya Sumba, saya lagi persiapkan tiga buah buku, barangkali khusus untuk Sumba, saya masih cari penerbitnya, sudah rampung masing- masing 80 persen. Ada buku yang pertama mengenai dongeng dan cerita rakyat Sumba. Kedua, dongeng asli Sumba, dan ketiga mengenai tatakrama orang Sumba. Datanya ada dan banyak peninggalan dari Bapak Kapitan juga yang dikumpulkan bertahun-tahun. Khusus untuk dongeng asli Sumba, kalau cerita-cerita asli Sumba kalau disebut asli juga tidak karena satu dongeng bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain hanya bahasanya dan tokohnya yang disesuiakn dengan tempat. Jadi setelah satya pelajari ya begitu. Kalau dongeng yang sama diceritakan di Jawa, maka nama dan pelakunya juga orang Jawa, tapi kalau diceritakan di Sumba maka nama dan pelakiu pasti orang Sumba.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Mengapa Anda ingin membukukan dongeng dari Sumba?</strong><br />
Di Sumba banyak dongeng, tapi banyak yang sudah dilupakan karena banyak yang sudah tidak diceritakan lagi. Jadi kalau tidak dibukukan maka kemungkinan bisa punah atau dilupakan oleh generasi mendatang. Sekarang saya sedang kumpul. Dari Sumba Timur saja ada beberapa dongeng. Lalu Sumba Barat, yakni Anakalang, Mamboro masing-masing dengan bahasa lokal. Sekarang masih ada beberapa dongeng yang saya kasih ke orang Sumba untuk terjemahkan karena bahasanya sama seperti bahasa Mamboro. Jadi dongeng asli bahasa Mamboro tapi diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Ada juga yang mengusulkan sekaligus diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Tapi saya masih berpikir.</p>
<p style="text-align: justify;">Anda lama di pertanian. Kalau dulu progam lebih mengena dengan kebutuhan masyarakat. Misalnya dulu ada program El Tari tetang menanam. Terus ada program Ben Mboi OMN dan ONH. Sekarang jagung lagi..<br />
Sebenarnya, setiap orang selalu mau mengikuti perkembangan atau mode. Mode ini terus berubah dan orang ingin berubah sesuai perubahan mode. Demikian juga program dalam bidang pertanian ini. Saya lihat dalam proyek-proyek sekarang pada prinsipnya sama dengan program pada pemerintahan masa lalu. Hanya istilahnya baru, sulit, tapi sebenarnya buat apa kalau mempersulit yang muda? Nanti kalau datang ini wah orang ini punya proyek berhasillah, ini terjadi kebanggaan sektoral. Tapi sebenarnya terkait.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Apa yang tidak menyenangkan kalau menulis?</strong><br />
Mencari penerbit atau sponsor yang bersedia menerbitkan buku ini. Tapi menulis harus cari sponsor atau penerbit dan bersedia menerbitkan. Saya tanya juga dosen-dosen, kenapa tidak tulis buku. Mereka bilang begini, banyak mahasiswa yang di muka hidung saya ini mereka memfotokopi buku itu. Jadi pembajakan secara halus pun mengurangi minat para penulis. (alfred dama)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Data diri</strong><br />
Nama: Ir. Umbu Pura Woha<br />
Tempat Tanggal lahir : Kampung Wualanda, Mangili 22 Oktober 1936<br />
Pendidikan :<br />
Sekolah Rakyat Masehi di Ngallu selama 4 tahun (1949).<br />
Kelas 5 dan 6 di Melolo-Sumba Timur dan tamat tahun 1951<br />
Melanjutkan di Sekolah Agama di Mauma&#8217;ru dan melanjutkan ke SMP Payeti Waingapu (hingga kelas III bagian B) dan tamat di SMP Kristen Waikabubak 1956<br />
SMA Kristen Salatiga, tamat tahun 1959<br />
Fakultas Pertanian-Institut Pertanian Bogor tamat tahun 1966<br />
Karier:<br />
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sumba Timur sejak tahun 1966</p>
<p style="text-align: justify;">Wakil Kepala Dinas Perkebunan NTT sejak tahun 1971<br />
Kepala Dinas Perkebunan Propinsi NTT sejak 1974 (selama 20 tahun)</p>
<p style="text-align: justify;">Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Holtikultira Propinsi NTT 1994.<br />
Pensiun 1996<br />
Istri : Rambu Lika Ana Amahu (nikah pada tanggal 10 Januari 1969)<br />
Anak-anak : Umbu Mangu Peter, ST, Umbu Maku Hinggiranja, SE, Umbu Tay Rawambaku, SE, Umbu Hapu Amahu dan Umbu Habita Meha, SE serta Rambu Mora Lambu Emu, S.T. (alf)<br />
<em><br />
Copyright: http://jurnalis-ntt.blogspot.com/</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sumbaisland.com/cari-kepuasan-dalam-tulisan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ignatia Sabrina Akan Kembali ke Kupang</title>
		<link>http://sumbaisland.com/ignatia-sabrina-akan-kembali-ke-kupang/</link>
		<comments>http://sumbaisland.com/ignatia-sabrina-akan-kembali-ke-kupang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Mar 2009 17:32:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sumbaisland.com/?p=1012</guid>
		<description><![CDATA[BISA datang ke Kupang merupakan kebahagiaan tersendiri bagi Ignatia Sabrina. Ungkapannya ini bukan sekadar basa-basi semata. Sebab, Miss Earth-Fire 2007 ini gadis berdarah Kupang, yang baru kali ini bisa berkunjung ke kampung halamannya. Orangtuanya berasal dari Amfoang Selatan-Kabupaten Kupang. Ignatia hadir di Kupang bersama dua rekannya Miss Indonesia Earth 2008, Hedhy Kurnianti dan Miss Indonesia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-1013" style="margin-left: 4px; margin-right: 4px;" title="ignatia_sabrina" src="http://sumbaisland.com/wp-content/uploads/2009/04/ignatia_sabrina.jpg" alt="ignatia_sabrina" width="150" height="217" />BISA datang ke Kupang merupakan kebahagiaan tersendiri bagi Ignatia Sabrina. Ungkapannya ini bukan sekadar basa-basi semata. Sebab, Miss Earth-Fire 2007 ini gadis berdarah Kupang, yang baru kali ini bisa berkunjung ke kampung halamannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Orangtuanya berasal dari Amfoang Selatan-Kabupaten Kupang.<br />
Ignatia hadir di Kupang bersama dua rekannya Miss Indonesia Earth 2008, Hedhy Kurnianti dan Miss Indonesia Earth-Water 2008 Paramitha Mentari Kesuma, dan Duta Tinju Tamara Bleszynski, untuk menyemarakkan berbagai acara termasuk kampanye penyelamatan lingkungan dengan menanam pohon di Kampung Oepunu, Desa Oelnasi-Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Sabtu (14/3/2009).<br />
Ditemui di sela-sela acara penanaman pohon cendana di kampung Oepunu, mahasiswa pasca sarjana London International School-Jakarta ini menyatakan sangat bahagia bisa datang ke kampung halaman ayahnya. Meski baru pertama, ia langsung merasakan ada hubungan yang kuat antara ia dengan Kupang. &#8220;Bahagia sekali bisa melihat Kupang yang begitu indah. Saya juga suka dengan daerah yang banyak perairannya,&#8221; katanya. Lebih bahagia lagi, menurut wanita berkulit putih bersih ini, ia bisa datang ke kampung halaman orangtuanya. Sebab baru kali ini ia sempat hadir di Kupang. &#8220;Saya keturunan Amfoang, saya bahagia bisa pulang ke kampung halaman,&#8221; jelasnya. Dia berharap suatu saat bisa kembali ke Kupang, baik untuk berkunjung ke kampung halaman orangtuanya di Amfoang maupun melihat pohon cendana yang ditanamnya di kampung Oepunu. &#8220;Memang baru pertama kali, dan saya akan datang lagi untuk melihat Kupang dan tanaman yang ditanam ini, pastinya mau lihat perkembangannya dan ingin melihat daerah Amfoang,&#8221; jelasnya. (alf)</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Copyright: http://jurnalis-ntt.blogspot.com</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sumbaisland.com/ignatia-sabrina-akan-kembali-ke-kupang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ibu Aloysia Kolin Berkisah: Perkembangan Paroki Sang Penebus</title>
		<link>http://sumbaisland.com/ibu-aloysia-kolin-berkisah-perkembangan-paroki-sang-penebus/</link>
		<comments>http://sumbaisland.com/ibu-aloysia-kolin-berkisah-perkembangan-paroki-sang-penebus/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Feb 2009 15:20:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sumbaisland.com/?p=780</guid>
		<description><![CDATA[Ibu Aloysia Kolin yang akrab disapa Nenek Guru telah tiada. Itu terjadi pada tanggal 10 September 2008 dalam usia 94 tahun. Tapi jasa yang ditinggalkannya untuk gereja dan sesama tidak kecil. Hal itu dapat dilihat dari hari pengebumiannya 15 September 2008 yang mana Gereja Sang Penebus Wara Waingapu dipadati oleh umat, baik dari golongan Islam, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><img class="alignleft size-full wp-image-781" style="margin-left: 3px; margin-right: 3px;" title="ibu_aloysia_kolin" src="http://sumbaisland.com/wp-content/uploads/2009/03/ibu_aloysia_kolin.gif" alt="ibu_aloysia_kolin" width="93" height="70" />Ibu Aloysia Kolin</strong> yang akrab disapa Nenek Guru telah tiada. Itu terjadi pada tanggal 10 September 2008 dalam usia 94 tahun. Tapi jasa yang ditinggalkannya untuk gereja dan sesama tidak kecil. Hal itu dapat dilihat dari hari pengebumiannya 15 September 2008 yang mana Gereja Sang Penebus Wara Waingapu dipadati oleh umat, baik dari golongan Islam, Protestan, maupun dari kalangan Katolik. Tidak kurang dari 22 imam yang merayakan misa reqiem dalam rangka pelepasan jenasah almarhum untuk dikebumikan di pekuburan Katolik Wara. Betapa Ibu Aloysia Kolin dan Bapak Mikhail Wuring Muda, suaminya, menjadi peletak dasar agama Katolik di Paroki Sang Penebus Waingapu, beberapa waktu yang lalu penulis sempat berbincang-bincang dengannya. Inilah kisahnya;</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu itu tahun 1939. Seorang pemuda berusia 27 tahun kelahiran Lewo Awan Flores Timur, tepatnya 29 September 1912, menginjakkan kaki untuk pertama kali di Waitebula. Pemuda yang mendapat pendidikan seminari rendah Mataloko, kemudian melanjutkan ke seminari tinggi Sika, rupanya tidak terpanggil menjadi imam, karena itu tidak meneruskan sejak tahun 1938. Dia diutus ke Waitabula sebagai pewarta injil dengan wilayah kerja Sumba Barat dan Sumba Timur. Pemuda itu adalah Mikhail Wuring Muda yang kemudian menjadi suami Ibu Aloysia Kolin. Menreka menikah 7 Agustus 1941.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai Pastor Paroki Waitabula saat itu Pater Aloysius de Rechter. Bersama Pater de Rechter, Mikhail Wuring Muda mengunjungi Waingapu tiga bulan sekali mewartakan injil. Hubungan lalulintas Sumba Barat dan Sumba Timur waktu itu sangat sulit. Jalan raya juga masih buruk. Pernah ‘oto’ mereka terbalik di Tana Daru, tapi untung masih selamat meski mereka mengalami cedera kecil yang tidak membahayakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena pertimbangan sulitnya hubungan lalu-lintas, maka sejak 1940 Bapak Mikhail Wuring Muda menetap di Waingapu hingga menikah dengan Ibu Aloysia Kolin kelahiran Larantuka 20 Juni 1914.</p>
<p style="text-align: justify;">Mulai saat itu keluarga muda menjalin hubungan dengan beberapa nama; Hendrik Hena Ama, Ola Tokan dan Kapitan yang kemudian menjadi murid mereka yang pertama. Dan inilah yang menjadi cikal-bakal umat Katolik di Waingapu. Bapak Mikhail dan Ibu Aloysia memilih tempat tinggal di Pakamburung. Dari sinilah kegiatan gerejawi dilaksanakan seperti berdoa bersama serta latihan nyanyi bersama. Untuk menjalin kerjasama, Bapak Mikhail segera menjalin hubungan dengan beberapa pendeta, diantaranya Pendeta Dara dan Pendeta Bapa Pa (ayah Ibu Paulina Bara Pa mantan Pemimpin SMP 2 Waingau). Karena sulitnya mengabar injil untuk memupuk dulu iman beberapa anggota yang waktu itu sudah belasan orang yang berada dalam kota.</p>
<p style="text-align: justify;">Perkembangan umat Katolik yang mulai berkecambah tiba-tiba terhambat ketika Jepang mendarat di Waingapu. Bom dijatuhkan dan penduduk kota berlarian mencari tempat persembunyian. Atas bantuan seorang mantan napi Bapak Mikhail dan Ibu Aloysia dihantar ke Makamenggit 30 KM dari Waingapu dan menetap hampir satu tahun. Meskipun demikian Bapak Mikhail turun Waingapu dua minggu sekali dengan menunggang kuda yang disiapkan oleh Ama Tua Deru mantan Napi yang menyelamatkan keluarga tadi. Di Panda ada rumah Bapak Hendrik Hena Ama yang waktu itu pegawai penjara. Di sinilah Bapak Mikhail menginap dan menghimpun kembali umat awal yang berjumlah belasan orang untuk berdoa dan bernyanyi bersama yang diambil dari lagu-lagu Gregorian.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada suatu hari orang Jepang menggeledah rumah0-rumah di Pakamburung. Tidak terkecuali rumah keluarga Bapak Mikhail. Koper yang berisi pakaian misa (walaupun pastor tidak ada, tapi selalu dibawa di tempat berdoa) digeledah. Begitu orang Jepang melihat salib, penggeledahan dihentikan. Dengan hormat yang mendalam si jepang meninggalkan rumah itu.Dan Bapak Mikhail merasa aman.</p>
<p style="text-align: justify;">Di Makamenggit terjadi mukjisat kecil. Pada suatu hari Ibu Aloysia diinterogasi oleh beberapa tentara Jepang yang mengira ibu ini orang Belanda karena berkulit putih. “Ibu orang Belanda, ya?” tanya tentara Jepang. “Tidak tuan, saya orang Flores” jawab Ibu Aloysia. “itu tidak mungkin. Mana ada orang Flores yang putih” lanjut tentara Jepang yang tidak yakin meskipun beberapa orang Makamenggit membenarkan bahwa ibu ini benar orang Flores. Tentara Jepang bertanya terus sambil mengayun-ayunkan samurainya (kelewang). Tiba-tiba ada ayam terbang dan hinggap persis di depan tentara tadi. Serta merta tentara itu meninggalkan Ibu Aloysia lalu mengejar ayam karena memangnya ini yang mereka cari di setiap kampung. Sedapat ayam itu tentara kembali lai. Ama Tua Deru segera menemui tentara Jepang, dan dalam sikap ramah dia menjanjikan ayam tiap kali datang ke Makamengit asal Ibu Aloysia tidak dipengapakan. Tentara Jepang setuju.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada tahun 1944 Mgr. Ogihara uskup Jepang mengunjungi Waingapu. Di Waingapu Bapak Uskup menyakan kalau-kalau di sini ada orang Katolik. Bapak Mikhail sekeluarga bersama umat menghadap Bapak Uskup yang disaksikan oleh pembesar-pembesar Jepang. Peristiwa ini membawa hikmat bagi perkembangan umat selanjutnya. Karena sejak peristiwa itu Bapak Mikhail dan keluarga Katolik lainnya tidak lagi diamat-amati apalagi digeledah oleh tentara Jepang.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu hai di Panda. Sementara BApak Mikhail memimpin kebaktian (tanpa imam tentunya), tiba-tiba ada bunyi sirene. Pesawat terbang begitu rendah. Semua orang di dalam rumah, apalagi ibu-ibu berlarian mencari lubang persembunyian. Karena Bapak Mikhail tidak ada di tempat persembunyian, orang panik mencarinya. Ternyata Bapak Mikhail masih di dalam rumah tadi. Beliau sedang asyik menyusun kembali pakaian misa menurut susunan semula; kasula, alba, amik, stola, manipel, singelum. Bom pun dijatuhkan di Wangga lama, barulah Bapak Mikhail lari ke tempat persembunyian.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah situasi agak aman Bapak Mikhail membuat rumah dekat SD (SR) Anda Luri lama dan gedung gereja lama. Bapak Hendrik Hena Ama adalah kawan setia. Seperti dituturkan Ibu Aloysia saat itu umat belum bisa berkembang karena situasi belum kondusif. Untuk mendapakan ijasah guru sekolah, karena sulitnya tenaga guru waktu itu, Bapak Mikhail melanjutkan ke Normal School di Ndona Flores. Sementara Ibu Aloysia mengajar di SR Ndona karena memiliki ijasah OVO (tamat tahun 1930 di Larantuka).</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah menamatkan Normal School Bapak Mikhail dan Ibu Aloysia kembali ke Sumba, namun bukan di Waingapu, melainkan di Waitebula. Bapak Mikhail dan Ibu Aloysia mengajar di SR Waitebula. Waktu itu SMP Waitebula dibuka yang dipimpin oleh Pater de Rechter. Bpak Mikhail dialihkan ke SMP untuk mengajar Bahasa Inggris. Karena belum ada kelas III semua siswa harus melanjutkan ke SMP Pancrasio di Labao Larantuka. Salah satu siswa yang melanjutkan ke sana yang masih diingat Ibu Aloysia adalah Jacobus Tedenz (kini mantan Lurah Waitebula).</p>
<p style="text-align: justify;">Tahun 1955 Juli Bapak Mikhail pindah Waingapu. Bapak Mikhail mengajar di SMP Anda Luri sedangkan Ibu di SR (SD) Anda Luri. Pemimpin SMP Pater Donkers merangkap Pastor Paroki menggantikan Pater Kale Bale. Waktu itu sudah ada umat di Kalumbang dan Panda. Yang namanya pastor pembantu belum ada.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah Pater Donkers menyusul Pater Gerhard Legeland dari Kongregasi CSSR yang menggantikan Kongregasi SVD di Sumba. Pater Gerhard Legeland menjadi Pastor Paroki Wara (Sang Penebus) yang gedungnya diresmikan pada 8 September 1956. Pater Gerhard Legeland kemudian dilantik menjadi Perfek Apostolik Sumba-Sumbawa. Beliau mendirikan KGA (Kursus Guru Agama), yang kemudian berganti SGA (Sekolah Guru Agama) dan terakhir menjadi IPGA (Institut Pendidikan Guru Agama).</p>
<p style="text-align: justify;">Tahun 1970 Bapak Mikhail Wuring Muda dan Ibu Aloysia Kolin pensiun (Bapak guru swasta, Ibu guru negri), namun dalam kegiatan gerejawi keduanya tetap aktif. Ibu Aloysia menangani anak temu minggu hingga tahun 2000, kemudian menerima katekumen. Bapak Mikail Wuring Muda meninggal 11 Juni 1977. Namun namanya tetap dikenang sebagai peletak dasar iman kristiani di Paroki Sang Penebus. Di bidang pendidikan beliau juga tetap dikenang dalam lagunya “Mars Anda Luri”.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat meresmikan gedung gereja Sang Penebus yang baru belum lama ini, Ibu Aloysia mengenangkan kembali pembangunan gedung gereja lama. Ada swadaya umat berupa batu dan pasir. Ibu Aloysia masih ingat betapa setiap istirahat, anak-anak SD dibawah bimbingan Ibu ramai-ramai mengambil pasir kali (karena tidak jauh), dan itu hanya memakai tempurung kelapa. Disebutkan pula, Om Buto yang adalah tukang Don Bosco waktu itu sangat berperanan dalam membangun gedung gereja lama.</p>
<p style="text-align: justify;">“Saya sekarang dalam usia 92 tahun (diungkapkan 25 Juli 2006) senang sekali masih bisa menyaksikan pentahbisan gedung gereja yang baru”, kata Ibu Aloysia yang akrab dipanggil Nenek Guru atau Mama Nyora oleh anak-anak temu minggu, bahkan oleh orang-orang dewasa. “Tapi harapan saya”, Ibu Aloysia melanjutkan lagi, “Kuantitas umat yang sudah begitu banyak, hendaknya diimbangi juga dengan kualitas iman”. Demikian Ibu Aloysia mengakhiri ceritanya.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Artikel: Frans W. Hebi<br />
Copyright : Waingapu.com</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sumbaisland.com/ibu-aloysia-kolin-berkisah-perkembangan-paroki-sang-penebus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Agustinus Umbu Rauta: Krusial, Pemimpin Pertama Kabupaten Sumba Tengah</title>
		<link>http://sumbaisland.com/agustinus-umbu-rauta-krusial-pemimpin-pertama-kabupaten-sumba-tengah/</link>
		<comments>http://sumbaisland.com/agustinus-umbu-rauta-krusial-pemimpin-pertama-kabupaten-sumba-tengah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Nov 2008 03:08:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sumbaisland.com/?p=652</guid>
		<description><![CDATA[Robertus Umbu Tayi &#8211; Banyak orang berkomentar seputar masa depan Sumba Tengah. Tidak sedikit yang pesimis. Banyak juga yang tetap berpikir positif. Sumba Tengah lahir dari pemikiran yang positif, dari harapan dan kepercayaan yang tidak pernah luntur. Pada masa-masa persiapan untuk memilih Kepala Daerah yang defenitif saat ini,banyak wacana yang bergulir di masyarakat. Pemimpin pertama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-653" style="margin-left: 4px; margin-right: 4px;" title="umbu_rauta" src="http://sumbaisland.com/wp-content/uploads/2009/03/umbu_rauta.jpg" alt="umbu_rauta" width="237" height="174" />Robertus Umbu Tayi &#8211; Banyak orang berkomentar seputar masa depan Sumba Tengah. Tidak sedikit yang pesimis. Banyak juga yang tetap berpikir positif. Sumba Tengah lahir dari pemikiran yang positif, dari harapan dan kepercayaan yang tidak pernah luntur. Pada masa-masa persiapan untuk memilih Kepala Daerah yang defenitif saat ini,banyak wacana yang bergulir di masyarakat. Pemimpin pertama ini sangat krusial oleh karena mengemban tugas untuk tetap menahan Sumba Tengah pada Trek nya sekarang atau kembali bergabung dengan kabupaten induk karena dianggap tidak dapat berkembang. Pemimpin seperti apa yang paling dibutuhkan Sumba Tengah saat ini? Tim redaksi Ujas, Ade dan Roby telah mewawancarai Drs Agustinus Umbu Rauta di rumahnya di bawah kaki gunung Tadula Dewa Desa Anajiaka.Seorang tokoh senior, yang dulunya banyak berkecimpung dalam dunia pendidikan sehingga terungkap pula beberapa persoalan pendidikan yang perlu mendapat perhatian.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana komentar bapak tetang Sumba Tengah yang telah menjadi Kabupaten…<br />
Hal pertama yang harus dilakukan adalah bersyukur. Ini adalah sebuah berkat yang sangat besar bagi masyarakat Sumba Tengah. Keputusan yang ditunggu dengan penuh harapan akhirnya datang. Syukur bahwa upaya peningkatan kesejahteraan semakin mendekat kepada kehidupan masyarakat yang selama ini sepertinya hanya sebuah impian. Kita punya harapan hidup yang lebih baik semakin besar sekarang dan akan datang dalam waktu yang relatif singkat ke depannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari awal perjuagan hingga sekarangpun, orang selalu mebandingkan 2 kabupaten baru yang baru lahir, dan orang selalu mengaggap remeh Sumba Tengah untuk dapat maju cepat…<br />
Undang-undang pembentukkan kabupaten baru mensyaratkan PAD yang cukup tinggi. Di sini sebenarnya tersirat prasyarat kemiskinan. Justru karena Sumba Tengah miskin makanya harus dimekarkan. Kalau saja Sumba Tengah tidak menjadi kabupaten maka akan tertinggal puluhan tahun lagi. Saya pikir orang-orang di pusat melihat bahwa kalau Sumba Tengah tidak dibantu maka akan semakin tertinggal. Menyangkut Sumba Barat Daya, kalau Sumba Barat Daya sudah makmur untuk apa lagi mekar? Sebaiknya kita berhenti sudah membanding-bandingkan apa yang tidak perlu. Mari kita berkonsentrasi pada apa yang kita miliki untuk kita kelola menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan kita. Kalau ada yang perlu kita sinergikan itu kan malah sangat baik.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Apa yang kita punya sebagai modal untuk mejalankan kabupaten ini?</strong><br />
Sekali lagi terlalu naif untuk mengatakan bahwa Sumba Tengah tidak punya apa-apa.Saya cukup mengikuti sejarah pembentukkan pemerintahan di pulau Sumba ini. Pada tahun 1958 pulau Sumba yang mejadi 1 unit pemerintahan tersendiri dibagi menjadi 2 kabupaten yaitu Sumba Barat dan Sumba Timur. Sumba Barat di pimpin oleh raja Loura yaitu Lede Kalumbang sebagai kepala pemerintahan sementara. Apa yang Sumba Barat punya waktu itu untuk hidup sebagai sebuah kabupaten? Jalan belum ada yang diaspal. Tidak ada satupun kendaraan. Kota Waikabubak itu panjangnya cuma 500 meter. Coba bandingkan dengan apa yang sudah ada di sumba Tengah sekarang ini untuk memulai diri mejadi kabupaten. Jalan mulus serta kendaraan banyak. Banyak yang kita bisa miliki untuk berhasil, jadi jangan dulu kita katakan Sumba Tengah tidak punya apa-apa kalau hanya melihat dengan kasat mata. Lahan bersama manusianya saja sudah cukup bagi kita untuk meretas hidup yang lebih baik.<br />
<strong><br />
Yang tidak kasat mata yang ada pada masyarakat, modal sosial apa yang kita punyai?</strong><br />
Ada buku baru yang terbit ditulis oleh Pak Hugo Kalembu. Isinya ada tentang sepintas perjalanan perjuangan pemekaran 2 kabupaten di Sumba. Dia mengakui bahwa hawa perjuangan yang sebenarnya ada di Sumba Tengah. Hal ini kiranya menjadi gambaran bahwa kita masyarakat pejuang. Kita punya semangat untuk memperjuangkan hidup yang lebih baik. Kalau kita tidak punya semangat dan daya juang, kita sudah mundur mendengar cemohan orang tentang ketidaklayakan kita menjadi daerah otonom baru. Gambaran kebersamaan, semangat dan daya juang kita bisa juga kita lihat dalam cara kita bekerja. Cara kita menarik batu kubur, menarik tiang, menanam padi. Kita selalu melakukannya secara bersama-sama dalam kegembiraan dengan nyanyian-nyanyian. Atau bahkan orang menyayi bersama kalau sedang mengendarai kuda memuat hasil dari sawah. Itu adalah modal utama kita untuk mengolah alam kita yang dinilai kurang menghasilkan. Selanjutnya kita butuh orang yang tepat yang berdiri diatas batu agar masyarakat kita benar-benar mejadi satu komando satu tujuan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Dengan realitas masyarakat Sumba Tengah yang demikian, di masa bayi ini Sumba Tengah membutuhkan pemimpin yang seperti apa?</strong><br />
Nah itulah yang saya bilang butuh orang yang tepat untuk berdiri di atas batu tadi. Yang terutama adalah dikenal dan mengenal rakyatnya, dicintai dan mencintai rakyat. Masyarakat mengenalnya dari kehidupan sehari-harinya, cara dia hidup, cara dia berhubungan dengan orang lain. Bagaimana kepekaan dan keprihatinannya dengan orang lain. Perhatian yang ditunjukkan dengan mengunjungi para pencuri di tahanan, yang mengunjungi orang sakit, yang mencintai rakyatnya dengan berlaku kudus dan jujur. Tidak menipu dan memakan uang rakyat, yang tahu dan mengenal dengan baik kehidupan masyarakat Sumba Tengah yang masih susah dan hidup dari sawah dan kebun. Dengan begitu kita berharap orang yang tahu berkebun dan bersawah. Bukan apa-apa dua tempat ini terlalu penting untuk masyarakat kita. Mengenal masyarakat juga berarti mengenal dengan baik adat istiadatnya terlibat aktif dalam acara-acara adat. Mengenal rakyat juga berarti tahu dan mengenal alamnya selain mengetahui manusianya. Menguasai wilayah ini sehingga tidak memerlukan waktu banyak lagi untuk orientasi pelaksanaan program. Selain itu juga membutuhkan orang yang berpengalaman di pemerintahan. Hal ini bisa dilihat dari perjalanan karier dan track record nya selama ini. Hal ini penting, karena untuk efisiensi dan keefektifan pelaksaaan pemerintahan mengingat Sumba Tengah butuh akselarasi yang lebih. pengalaman kepamongprajaan, pengalaman lapangan. Jangan orang yang selama ini hanya mengatur dari kantor saja. Sumba Tengah sangat membutuhkan investor. Jadi sebaiknya pemimpin yang akan segera kita pilih punya modal jaringan yang kuat dalam hal ini, paling konkrit orang tahu Jakarta lah….yang tahu jalur-jalur yang baik dan benar untuk dapat mendatangkan investor ke Sumba Tengah. Pengenalan akan manusia dan alam Sumba Tengah adalah modal yang sangat berarti untuk menyusun strategi yang paling cocok agar pelaksanaan program pembangunan tepat guna dan tepat sasaran.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Dari sudut pandang budaya, kepemimpinan seperti apa yang bisa direkomendasikan?</strong><br />
KeUmbuan dan Kebangsawanan yang masih kelihatan dalam masyarakat ini, itulah yang bisa kita jadikan cermin kepemimpinan. Keumbuan dan kebangsawanan adalah sebuah tanggungjawab besar. Kalau di kampung dapat dibilang sebagai ina ama ta paraingu. Maramba mempunyai arti melindungi, mengayomi rakyat dalam kampung. Kalau ada satu masalah dalam kampung maramba pasti terlibat dalam penyelesaiannya. Kalau satu rumah tidak bunyi lesungnya maka atas inisiatif maramba padi akan dikirim ke rumah tersebut. Setiap acara adat baik kematian maupun perkawinan maramba selalu memainkan peran sentral. Saya punya pengalaman saat saya dianiaya marinir beberapa tahun yang lalu. Seorang yang saya anggap pembesar di Sumba Barat dengan serta merta datang memberi saya sebatang parang dan berkata: “mari kita selesaikan masalah ini apa pun caranya…” Dalam sudut pandang budaya, orang seperti ini yang secara subjektif saya anggap maramba. Atau kembali dalam metafora menarik batu, kita butuh pemimpin yang menjadi motivator ulung yang pada saat bernyanyi dan saat dia berteriak ya waa! Segenap rakyat akan menjawabnya gauwa! Motivator yang mengerti pola pikir masyarakat Sumba Tengah. Kita ini pintar kahoha atau merayu namun mudah juga untuk dikahoha atau di rayu.<br />
<strong><br />
Bapak berkecimpung cukup lama dalam dunia pendidikan. Apa yang ingin bapak sampaikan?</strong><br />
Semua orang tahu pendidikan sangat penting. Membangun pendidikan sama dengan membangun peradaban. Namun seperti yang kita alami bersama pendidikan masih morat marit. Berbicara tentang pendidikan di Sumba Tengah tidak lepas juga dari sistem pendidikan yang lebih besar, dan kenyataannya persoalan pendidikan terlalu kompleks. Oleh karena itu dengan adanya Kabupaten Sumba Tengah apa lagi dalam era otonomi daerah ini kita dapat lebih fokus untuk melihat persoalan pendidikan kita. Di tingkatan praktisi, salah satunya mempersoalkan pendidikan di Sumba Tengah adalah keterpencaran penduduk. Sumba Tengah sangat luas. Pola-pola pemukiman tradisional yang berjauhan antara satu dengan yang lain adalah tantangan tersendiri. Untuk pemerataan pendidikan pemerintah harus membangun lebih banyak SD mini. Biar 10 murid saja yang penting ada gurunya. Misalnya 1 desa luasnya 50 km2 dan hanya tersedia 1 SD kita harus perhitungkan kekuatan berjalan anak. Misalnya jarak sekolah ke rumah 4 km dengan medan yang sulit maka dalam satu hari si anak yang baru kelas 1 atau kelas 2 berjalan 8 km. Jadi SD mini ini misalnya untuk anak-anak kelas 1 sampai 3 saja dengan konsentrasi baca tulis dan hitung saja. Tidak peduli dengan tetek bengek kurikum segala. Nanti setelah itu selesai baru digabung ke SD yang lengkap. Gurunya biar tamatan SMP saja. Pemerintah bisa memfasilitasi DIKLAT khusus untuk mereka. Untuk hal ini kita sangat membutuhkan kearifan dari penguasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana Tentang Kurikulum Nasioanal yang terus berubah?<br />
Tidak usah kita dipusing dengan metode dan kurikulum yang setiap saat berubah, paling penting sekarang adalah anak kelas 1-3 bisa mebaca menulis dan menghitung. Kalau ini sudah selesai selanjutnya akan menjadi mudah. Kesalahan umum sekarang adalah karena anak kelas 4 tidak bisa membaca menulis, akibat akan terjadi saling menyalahkan di antara para guru. Kelas 4 salahkan guru kelas 3, kelas 5 salahkan guru kelas 4 dan seterusnya, sehingga guru SMP menyalahkan guru SD.<br />
<strong><br />
Selain CALISTUNG (membaca, menulis dan menghitung) model pendidikan praktis yang konteks dengan Sumba Tengah kira-kira apa?</strong><br />
Kalau pendidikan mau menghasilkan manusia yang paripurna, maka hasilnya adalah manusia yang pintar, rajin, baik dan sehat. Yang dididik adalah hati otak dan tangannya, hasilnya adalah manusia yang hidup dari keringatnya sendiri, yang tidak menindas orang lain. Untuk yang praktis dan kontekstual, Sumba Tengah ini masih tergolong desa. Akan baik kalau 1 orang anak sekolah diwajibkan memiliki 1 pohon pisang, 10 pohon mahoni dan 1 ekor ayam untuk dipelihara. Selama ini pelajaran di sekolah sangat jauh dari ligkungan, semua tentang Jawa saja malah tentang Sumba tidak ada. Kalau bisa juga sekalian diprogramkan dalam porseni untuk dipertandingkan lomba nyanyian daerah yang lama atau yang gubahan baru. Dengan demikian kita tetap hidup dalam lingkungan budaya kita serta melestarikannya. Untuk merangsang motivasi anak untuk lebih berusaha adalah dengan bentuk apresiasi terhadap prestasi mereka. Anak yang berprestasi di tingkatan kecamatan hingga nasional diarak keliling kota dan diberi hadiah yang pantas. Untuk orang-orang muda yang belum punya pekerjaan mereka dikondisikan supaya memelihara babi atau ternak yang lain sehingga kalau saatnya kawin tidak mengharapkan orang tua lagi. Mereka harus punya cangkul atau alat-alat bertani lainnya. Satu hari tidak usah terlalu banyak mencangkul cukup 2×2 meter saja. Hitung saja berapa yang sudah dicangkul selama satu bulan.<br />
<strong><br />
Adakah persoalan dalam dunia pendidikan yang perlu di buat menjadi PERDA?</strong><br />
Khusus di Sumba Tengah kita membutuhkan PERDA pendidikan yang khusus. Misalnya tentang absensi guru. Guru kita terlalu banyak urusan di luar sekolah terutama urusan adat. Waktu untuk mengajar banyak terbuang untuk urusan adat. Kalau bisa ada sanksi bagi guru-guru yang meninggalkan sekolah pada jam-jam pelajaran. Tentunya akan menjadi pertimbangan pembuat kebijakan sehingga semua menjadi sinergi. Yaa…kesemuanya itu tergantung dari kearifan pembuat kebijakan untuk melihat persoalan yang ada di Sumba Tengah. Kembali lagi semoga kita dapat memilih pemimpin yang tahu benar akan manusia dan alam Sumba Tengah dan memiliki kecerdasan untuk meramu potensi di Sumba Tengah menjadi kekuatan untuk maju.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>Copyright: http://talora07.wordpress.com</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sumbaisland.com/agustinus-umbu-rauta-krusial-pemimpin-pertama-kabupaten-sumba-tengah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

