<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sumba Island - Media Informasi Pulau Sumba &#187; Sumba Barat Daya</title>
	<atom:link href="http://sumbaisland.com/category/sumba-zone/sumba-barat-daya/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sumbaisland.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 16 Jan 2012 04:00:34 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Masyarakat Untung Jika Tanah di Tanjung Karoso Terjual</title>
		<link>http://sumbaisland.com/masyarakat-untung-jika-tanah-di-tanjung-karoso-terjual/</link>
		<comments>http://sumbaisland.com/masyarakat-untung-jika-tanah-di-tanjung-karoso-terjual/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Aug 2011 18:25:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sumba Barat Daya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sumbaisland.com/?p=3846</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Masyarakat justru merasa untung tanah itu bisa dijual daripada tidak digarap. Ada yang membelinya, syukurlah,&#8221; kata Yosep Rangga Tene, Kepala Desa Kalela Rongngo. TAMBOLAKA &#8212; Kepala Desa Kalela Rongngo, Yosep Rangga Tena, membenarkan kalau kawasan di pesisir Tanjung Karoso ini sudah dikapling pemodal. Menurut  Yosep, warga setempat atau pemilik tanah belum jauh berpikir dan melihat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>&#8220;Masyarakat justru merasa untung tanah itu bisa dijual daripada tidak digarap. Ada yang membelinya, syukurlah,&#8221; kata Yosep Rangga Tene, Kepala Desa Kalela Rongngo.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-3850" style="margin-left: 3px; margin-right: 3px;" title="Tanjung-Karoso-sumba" src="http://sumbaisland.com/wp-content/uploads/2011/08/Tanjung-Karoso-sumba.jpg" alt="" width="245" height="208" />TAMBOLAKA &#8212; Kepala Desa Kalela Rongngo, Yosep Rangga Tena, membenarkan kalau kawasan di pesisir Tanjung Karoso ini sudah dikapling pemodal.</p>
<p>Menurut  Yosep, warga setempat atau pemilik tanah belum jauh berpikir dan melihat potensi wisata dari kawasan pantai di situ. Karena itu mereka melepas tanah itu tanpa banyak berpikir keuntungan ekonomisnya untuk jangka panjang.</p>
<p>&#8220;Masyarakat justru merasa untung tanah itu bisa dijual daripada tidak digarap. Ada yang membelinya, syukurlah. Begitu yang dipikirkan masyarakat,&#8221; kata Yosep.</p>
<p>Dari pengamatan Pos-Kupang. Com, Kabupaten SBD memiliki sejumlah pantai indah yang menyajikan pesona pemandangan laut yang menakjubkan.</p>
<p>Selain Tanjung Karoso, SBD punya Pantai Mananga Aba yang sedang ditata oleh pengusaha pariwisata Bali, Aloysius Purwa, MBA.  Purwa bertekad menyulap  kawasan pantai dengan panjang pantai sekitar 10 km ini menjadi Pantai Kuta-nya SBD.</p>
<p>Meski ditentang warga lokal, nama Pantai Mananga Aba diganti menjadi Pantai Kita. Kalau Tanjung Karoso letaknya sekitar 40 km dari Tambolaka, Pantai Mananga Aba cuma berjarak belasan km dari Tambolaka dan masih termasuk dalam wilayah kota.</p>
<p>Saat ini Purwa tengah membangun restoran dan karaoke dua lantai. Rencananya Oktober tahun ini, restoran dan karaoke itu diresmikan. Setelah restoran dan karaoke diresmikan, Purwa akan segera membangun hotel di sebelahnya.</p>
<p>Kabupaten SBD juga punya  Pantai Ratenggaro di Kecamatan Kodi Bangedo. Panaroma pantai ini sungguh indah dan memanjakan mata. Terletak di pantai selatan yang berhadapan dengan Samudera  Hindia,  ombak pantai ini sangat cocok untuk selancar.</p>
<p>Memang letak pantai ini agak jauh dari pusat Kota Tambolaka, tetapi kondisi jalannya yang lurus dan relatif baik, hanya butuh waktu sekitar 45 menit dengan kendaraan untuk tiba di sini. Selain pemandangan yang indah menghadap laut lepas, pasir putihnya juga menawan. Beberapa batu kubur berusia ratusan tahun yang berdiri tegak di bibir pantai juga punya daya tarik yang luar biasa.</p>
<p>Di kawasan pantai ini terdapat dua dusun yang masih kental dengan tradisi aslinya, yakni Ratenggaro dan Wainyapu. Dilihat dari  tepi pantai,  menara rumah-rumah dari dua desa ini menjulang tinggi dan menarik mata. Tak heran, kawasan ini kemudian dikenal dengan sebutan Desa Seribu Menara.</p>
<p>Untuk diketahui, areal di pesisir Pantai Tanjung Karoso, Kecamatan Kodi, Sumba Barat Daya (SBD), sudah banyak dikuasai pemilik modal dari luar daerah.  Dikhawatirkan, lama kelamaan warga SBD menjadi asing di tempat kelahirannya sendiri.</p>
<p>Tanjung Karoso adalah ujung paling barat Pulau Sumba. Pasir putih di pantai ini memanjang melingkar tanjung dengan garis pantai belasan kilometer. Berada di ujung pulau, Tanjung Karoso menyajikan pemandangan pantai yang memesona para pelancong.*Pos Kupang</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sumbaisland.com/masyarakat-untung-jika-tanah-di-tanjung-karoso-terjual/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rotary Club Sumbang Dua Mesin Desalinasi Air</title>
		<link>http://sumbaisland.com/rotary-club-sumbang-dua-mesin-desalinasi-air/</link>
		<comments>http://sumbaisland.com/rotary-club-sumbang-dua-mesin-desalinasi-air/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Aug 2011 19:03:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sumba Barat Daya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sumbaisland.com/?p=3771</guid>
		<description><![CDATA[TAMBOLAKA &#8212; Rotary Club menyumbang dua unit mesin desalinasi (pengolah air asin dan payau menjadi air tawar) untuk Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD). Satu unit dipasang di kawasan Pantai Kita, dan satu lagi di dekat Pelabuhan Waikelo, Kecamatan Laura. “Mestinya dua mesin ini untuk Kepulauan Natuna, Propinsi Riau. Tetapi karena NTT, juga SBD, termasuk daerah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-3775" style="margin-left: 3px; margin-right: 3px;" title="Rotary-Club-Sumbang-Dua-Mesin" src="http://sumbaisland.com/wp-content/uploads/2011/08/Rotary-Club-Sumbang-Dua-Mesin.jpg" alt="" width="297" height="300" />TAMBOLAKA &#8212; Rotary Club menyumbang dua unit mesin desalinasi (pengolah air asin dan payau menjadi air tawar) untuk Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD). Satu unit dipasang di kawasan Pantai Kita, dan satu lagi di dekat Pelabuhan Waikelo, Kecamatan Laura.</p>
<p>“Mestinya dua mesin ini untuk Kepulauan Natuna, Propinsi Riau. Tetapi karena NTT, juga SBD, termasuk daerah tertinggal, kita akhirnya alihkan ke sini,” kata Past District Governor (PDG) Rotary Club, Aloysius Purwa, MBA, Rabu (10/8/2011) malam, di Rumah Jabatan Bupati SBD.</p>
<p>Saat itu Purwa membawa sejumlah pengusaha perhotelan dan kontraktor dari Malang dan Bali bertemu Bupati SBD, dr. Kornelius Kodi Mete. Turut hadir malam itu, Sekda SBD, Drs. Anton Umbu Zaza, Kadis PU, I Nyoman Agus, MT, Kabag Humas, Drs. Lukas Gaddi.<br />
Dua unit mesin desalinasi itu, jelas Aloysius, diberi gratis kepada Pemkab SBD. Satu unit harganya Rp 1,5 miliar. “Ini gratis untuk membantu masyarakat di sini,” kata Aloysius.</p>
<p>Bupati SBD, dr. Kornelius Kodi Mete, menyambut gembira hadiah itu. Dari pengamatan Pos Kupang, air bersih masih menjadi kebutuhan mahal untuk penduduk di Kota Tambolaka yang masuk dalam wilayah Kecamatan Laura. Umumnya warga membeli air dari mobil tangki dengan harga ratusan ribu rupiah.</p>
<p>Kota Baru<br />
Kepada Bupati Kodi Mete, Aloysius juga mengemukakan niat dan minat sejumlah pengusaha di sektor pariwisata yang melirik SBD. Ada tujuh investor yang malam itu ikut menemui Bupati Kodi Mete. “Mereka ada tujuh orang dari Malang. Mereka ini sudah biasa bangun ruko dan hotel ukuran kecil di Malang yang berhasil. Mereka coba lihat peluang di sini,” kata Aloysius.</p>
<p>Para pemodal itu, jelas Aloysius, ingin menyulap satu tempat di SBD menjadi semacam kota baru yang terpusat di satu tempat. “Di situ semua lengkap. Ada hotel, pertokoan, ada mall, ada rumah sakitnya, ada tempat olahraganya. Semua ada di situ, sehingga orang tidak perlu jauh-jauh untuk cari sesuatu,” jelas Aloysius.</p>
<p>Lokasi untuk kota baru itu malah sudah dilirik sebelumnya. Lahan yang diminta untuk dibangun menjadi kota baru sekitar 7 sampai 10 hektar.<br />
Bupati Kodi Mete menawarkan tanah pemkab di kawasan menuju Pantai Kita (Pantai Mananga Aba). “Kita siap bantu. Saat mulai kerja, kita langsung siap bantu,” tegas Kodi Mete.</p>
<p>Aloysius bertekad memajukan dunia pariwisata SBD. “Mimpi kita pariwisata maju di SBD. Tetapi yang utama untuk pariwisata itu adalah keamanan. Karena itu kita juga minta polisi dan aparat keamanan secara umum ikut membantu menjaga keamanan, sehingga para tamu tidak merasa terganggu,” kata Aloysius.</p>
<p>Aloysius juga mengutarakan sejumlah agenda ke depan yang akan dikerjakan. Dia ingin mendirikan sekolah bertaraf internasional. Sekolah dengan kualifikasi seperti ini sudah didirikan di beberapa tempat di Indonesia. Di SBD, dia juga ingin membangun sekolah ini.<br />
Drs. Panudiana Kuhn, seorang pegiat pariwisata di Bali menambahkan, majunya sektor pariwisata juga perlu didukung oleh budaya masyarakat. Artinya, masyarakat juga perlu disiapkan sehingga bisa ikut mendukung pengembangan sektor pariwisata.</p>
<p>Dia mencontohkan di Bali, para wisatawan itu mau privasinya dihargai, tidak mau diganggu. “Nah, di sini masyarakat juga harus siap kalau ada turis yang tidur-tiduran di pasir dengan pakaian yang minim. Bali maju karena budaya masyarakat juga ikut mendukung,” katanya.*Pos Kupang</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sumbaisland.com/rotary-club-sumbang-dua-mesin-desalinasi-air/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Uma Peghe Berdayakan Masyarakat</title>
		<link>http://sumbaisland.com/uma-peghe-berdayakan-masyarakat/</link>
		<comments>http://sumbaisland.com/uma-peghe-berdayakan-masyarakat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Aug 2011 19:03:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sumba Barat Daya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sumbaisland.com/?p=3772</guid>
		<description><![CDATA[TAMBOLAKA &#8212; Uma Peghe (Rumah pintar) dikembangkan di tiga desa di Kabupaten Sumba Barat Daya. Filosofi dasar dari Uma Peghe adalah memberdayakan masyarakat setempat sehingga bisa mandiri dengan potensi dan kapasitas lokal. Tiga desa yang dikembangkan Uma Peghe adalah Desa Kalena Rongngo di Kecamatan Kodi Utara, Desa Atedalo, Kecamatan Kodi dan Desa Dikira, Kecamatan Wewewa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-3779" style="margin-left: 3px; margin-right: 3px;" title="Uma-Peghe-Berdayakan-Masyarakat" src="http://sumbaisland.com/wp-content/uploads/2011/08/Uma-Peghe-Berdayakan-Masyarakat.jpg" alt="" width="299" height="284" />TAMBOLAKA &#8212; Uma Peghe (Rumah pintar) dikembangkan di tiga desa di Kabupaten Sumba Barat Daya. Filosofi dasar dari Uma Peghe adalah memberdayakan masyarakat setempat sehingga bisa mandiri dengan potensi dan kapasitas lokal.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiga desa yang dikembangkan Uma Peghe adalah Desa Kalena Rongngo di Kecamatan Kodi Utara, Desa Atedalo, Kecamatan Kodi dan Desa Dikira, Kecamatan Wewewa Timur. Uma Peghe digagas dan dikembangkan oleh Yayasan Donders Waitabula.</p>
<p style="text-align: justify;">Kepada Pos Kupang di Desa Kalena Rongngo, Senin (8/8/2011), Ketua Yayasan Donders Waitabula, Pater Mikael Keraf, CSsR, menjelaskan, Uma Peghe sebenarnya learning center yang diperkenalkan kepada masyarakat guna mengangkat dan memberdayakan mereka. Di Uma Peghe, kata Keraf, masyarakat bisa belajar mengembangkan kapasitas diri, melihat dan mengembangkan potensi-potensi lokal yang ada di lingkungan mereka sendiri sehingga bisa maju dan mandiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Uma Peghe, kata Pater Keraf, digagas dan dirancang karena dari survai dan pengamatan ternyata masyarakat SBD masih mengalami hambatan sumber daya manusia (SDM) untuk maju. “Karena itu kita kemudian mulai berpikir mencari jalan bagaimana mengembangkan dan memberdayakan masyarakat dalam konteks dan lingkungan mereka sendiri,” kata Pater Keraf.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat ini konsep ini sementara disosialisasikan dan dikembangkan kepada masyarakat di tiga desa ini. Hari Senin, staf dan fasilitator Yayasan Donders memberi pelatihan tentang bagaimana mengelola Uma Peghe, bagaimana mengurus administrasinya dan bagaimana membuat laporan keuangan. Pelatihan ini diberikan oleh Stef Segu, Imelda Sulis dan Oktavianus, staf dan fasilitator Yayasan Donders. Belasan orang yang dipilih mengikuti pelatihan ini. “Mereka inilah yang nantinya menularkan konsep dan bagaimana mengelola Uma Peghe kepada yang lain,” kata Stef Segu.</p>
<p style="text-align: justify;">Stef menjelaskan, setelah SDM masyarakat disiapkan, akan dibangun Uma Peghe di tiga desa itu. “Mimpi kita Uma Peghe itu akan menjadi tempat orang mengembangkan diri, anak-anak juga bisa belajar malam hari, petani bisa kembali melihat dan mempelajari potensi tanaman lokal yang sudah mulai ditinggalkan. Boleh dibilang Uma Peghe itu jadi pusat data untuk apa saja bagi masyarakat,” kata Stef.</p>
<p style="text-align: justify;">Stef menyebut beberapa harapan dari adanya Uma Peghe itu. Pertama, menjadi tempat berkumpul warga membicarakan apa saja. “Uma Peghe menjadi semacam tempat musyawarah kampung,” kata Stef.<br />
Kedua, tempat untuk warga meningkatkan kapasitas pertanian, kerajinan, kesenian. Ketiga, tempat mengekspresikan potensi-potensi lokal yang mulai hilang. *Pos Kupang</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sumbaisland.com/uma-peghe-berdayakan-masyarakat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sumba Krisis Semen n Harga Semen Rp 72 Ribu/Zak</title>
		<link>http://sumbaisland.com/sumba-krisis-semen-n-harga-semen-rp-72-ribuzak/</link>
		<comments>http://sumbaisland.com/sumba-krisis-semen-n-harga-semen-rp-72-ribuzak/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Aug 2011 19:12:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sumba Barat Daya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sumbaisland.com/?p=3782</guid>
		<description><![CDATA[Lede Pusing Seminggu Cari Semen TAMBOLAKA &#8212; John Lede, seorang warga Tambolaka, Sumba Barat Daya, mengaku sudah sejak seminggu terakhir kesulitan mencari semen untuk kelanjutan pembangunan rumahnya. “Sudah seminggu ini saya pusing cari semen. Sudah mendatangi semua toko, tetapi semen tidak ada. Katanya sudah sejak minggu lalu semen tidak masuk. Yang ada cuma satu dua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Lede Pusing Seminggu Cari Semen</strong><br />
<img class="alignleft size-full wp-image-3788" style="margin-left: 3px; margin-right: 3px;" title="Sumba-Krisis-Semen" src="http://sumbaisland.com/wp-content/uploads/2011/08/Sumba-Krisis-Semen.jpg" alt="" width="294" height="197" />TAMBOLAKA &#8212; John Lede, seorang warga Tambolaka, Sumba Barat Daya, mengaku sudah sejak seminggu terakhir kesulitan mencari semen untuk kelanjutan pembangunan rumahnya.</p>
<p>“Sudah seminggu ini saya pusing cari semen. Sudah mendatangi semua toko, tetapi semen tidak ada. Katanya sudah sejak minggu lalu semen tidak masuk. Yang ada cuma satu dua saja. Tetapi kalau dijual pun harganya naik menjadi Rp 70 ribu/zak,” kata Lede saat ditemui  di Toko Bangunan Eka Putra, Tambolaka, Selasa (2/8/2011).<br />
Sejak seminggu lalu, semen  hilang di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Sumba Barat, dan Sumba Tengah.</p>
<p>Stok yang tersisa dijual dengan harga  Rp 70 ribu, bahkan ada yang Rp 72 ribu/zak.  Menghilangnya semen di tiga kabupaten di daratan Sumba ini terjadi lantaran kapal pengangkut semen terlambat masuk ke Tambolaka.<br />
Pantauan Pos Kupang beberapa hari terakhir, kesulitan mendapatkan semen itu dikeluhkan masyarakat yang sedang membangun rumah.</p>
<p>Melkianus Bili, yang mengaku dari Kodi, juga mengungkapkan hal yang sama. Bili bahkan setiap hari ke Tambolaka mengecek semen. “Tiap hari saya ke sini mencari semen. Tetapi tidak dapat juga. Katanya kapal belum masuk. Menurut orang di toko bangunan, kapal yang bawa semen rusak di Bima sehingga semen tidak ada di sini,” kata Bili.<br />
Hampir setiap  hari banyak warga yang mencari semen terlihat mendatangi toko-toko bangunan di  Tambolaka.</p>
<p>Di sejumlah toko bangunan, para penjaga toko mengatakan sudah sejak minggu lalu semen tidak masuk. Menurut mereka, kondisi itu terjadi karena kapal yang mengangkut semen ke  Tambolaka macet di tengah laut. “Katanya kapal rusak di Bima. Mudah-mudahan cepat masuk sehingga semen kembali normal,” kata seorang penjaga toko  yang tidak mau menyebut namanya. Dia juga meminta nama  toko tempat kerjanya jangan ditulis.</p>
<p>Pemilik Toko Lokaki Indah, yang juga menjual semen, mengakui, sudah seminggu terakhir semen hilang dari Tambolaka. “Tidak tahu kapan ada. Kita hanya penjual saja, kurang tahu kapan dapat dan jual lagi,” kata pemilik Toko Lokaki Indah.<br />
Raibnya semen juga dibenarkan Melkianus Lubalu, pemilik Toko Bumi Indah. “Sekarang harganya naik jadi Rp 70 ribu/zak,” kata Lubalu.</p>
<p>Lubalu mengatakan, raibnya semen itu karena kapal pengangkut semen terlambat masuk ke Pelabuhan Waikelo. Lubalu menyebut KM Samudera, kapal pengangkut semen yang sudah masuk Pelabuhan Waikelo, Selasa (2/8/2011), dan siap membongkar semen.  “Kapal Samudera bawa 20 ribu zak. Ada satu kapal lagi  yang akan segera menyusul,” kata Lubalu.</p>
<p>Tentang harga semen yang menembus hingga Rp 70 ribu/zak, Lubalu mengatakan, “Itu mengikuti hukum  pasar. Penjual kan tidak mau rugi. Mudah-mudahan dua tiga hari lagi kapal yang satu segera masuk sehingga masyarakat tidak rugi lagi.”<br />
Lubalu mengatakan, kondisi kelangkaan bahkan raibnya semen itu sebenarnya tidak terjadi. Tetapi ini karena faktor alam juga. “Bulan Juli dan Agustus biasanya laut tidak bersahabat. Kapal juga trouble, pabrik semen juga mengalami gangguan sedikit sehingga terlambat masuk,” kata Lubalu.</p>
<p>Lubalu mengatakan, jika kapal kedua yang membawa semen masuk ke Tambolaka, kondisi semen di tiga kabupaten, yakni Sumba Barat Daya, Sumba Barat dan Sumba Tengah akan kembali normal. Dalam kondisi normal, harga semen Rp 60 ribu/zak.  “Mudah-mudahan minggu depan sudah kembali normal,” ujarnya.</p>
<p>Di Waikabubak, Ibu kota Kabupaten Sumba Barat, beberapa kontraktor memborong semen yang dijual di beberapa kios kecil milik rakyat  seharga Rp 72 ribu/zak dari sebelumnya hanya Rp 63 ribu/zak. Hal ini terpaksa dilakukan agar pekerjaan proyek berjalan sesuai waktu yang ditentukan.</p>
<p>Salah seorang kontraktor yang ditemui Pos Kupang di Toko Nuansa-Waikabubak, Rabu (3/8/2011), mengatakan, ia baru saja mengecek persediaan semen di beberapa toko dalam Kota Waikabubak termasuk di Toko Nuansa. Namun, semua semen kosong.</p>
<p>Sehari sebelumnya, katanya, ia terpaksa membeli semen di wilayah Wewewa (SBD) untuk keperluan pekerjaan proyek di Sumba Tengah. Namun hanya memperoleh belasan zak semen saja. Kondisi itu sangat mengganggu waktu pekerjaan proyek mengingat jadwal pekerjaan sudah ditentukan.</p>
<p>Karena itu, ia meminta pemerintah mengambil sikap terhadap kelangkaan semen tersebut. Bila perlu pemerintah melakukan operasi ‘bersih gudang’ guna mencegah terjadinya penimbunan semen di gudang-gudang milik pengusaha tertentu.*Pos Kupang</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sumbaisland.com/sumba-krisis-semen-n-harga-semen-rp-72-ribuzak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Retribusi Parkir Belum Ditarik</title>
		<link>http://sumbaisland.com/retribusi-parkir-belum-ditarik/</link>
		<comments>http://sumbaisland.com/retribusi-parkir-belum-ditarik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Aug 2011 19:14:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sumba Barat Daya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sumbaisland.com/?p=3786</guid>
		<description><![CDATA[TAMBOLAKA &#8212; Sampai dengan saat ini, retribusi parkir kendaraan di tepi jalan umum di Kota Tambolaka, belum ditarik Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD). Padahal, perparkiran merupakan salah satu sumber penghasilan daerah yang bisa diandalkan. Pantauan Pos Kupang, kendaraan umum baik bus, truk, bemo dan juga sepeda motor, memarkir bebas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://sumbaisland.com/wp-content/uploads/2011/08/Retribusi-Parkir-Belum-Ditarik.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3792" style="margin-left: 3px; margin-right: 3px;" title="Retribusi-Parkir-Belum-Ditarik" src="http://sumbaisland.com/wp-content/uploads/2011/08/Retribusi-Parkir-Belum-Ditarik.jpg" alt="" width="245" height="217" /></a>TAMBOLAKA &#8212; Sampai dengan saat ini, retribusi parkir kendaraan di tepi jalan umum di Kota Tambolaka, belum ditarik Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD).</p>
<p>Padahal, perparkiran merupakan salah satu sumber penghasilan daerah yang bisa diandalkan.<br />
Pantauan Pos Kupang, kendaraan umum baik bus, truk, bemo dan juga sepeda motor, memarkir bebas kendaraan di jalan umum tanpa ditarik retribusi. Di tempat lain, retribusi parkir merupakan salah satu sumber penghasilan daerah yang cukup menjanjikan.</p>
<p>Di jalan umum di kawasan pertokoan, mulai dari depan Gereja Katedral Waitabula hingga Stadion Galatama, Tambolaka, kendaraan umum bebas memarkir tanpa dipungut retribusi. Sejumlah pengendara roda empat dan sepeda motor malah bingung ketika ditanya tentang retribusi parkir. Mereka mengakui selama ini belum ada kebijakan menarik retribusi dari setiap kendaraan yang parkir di jalan umum.</p>
<p>Kepala Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (PPKAD) SBD, Drs. Cyprianus Nono, kepada Pos Kupang di Tambolaka, Senin (1/8/2011), mengakui sejauh ini belum ada pemasukan daerah dari sektor parkir. “Belum ada pemasukan karena belum ditarik,” kata Nono.<br />
Nono juga membenarkan kalau retribusi parkir ditarik dari kendaraan, akan memberikan pemasukan untuk daerah. “Masih dibenahi sehingga ke depan bisa ditarik,” kata Nono.</p>
<p>Sebelumnya, Sekretaris Dishubkominfo SBD, John Tende, S.H, juga membenarkan belum ditariknya retribusi parkir dari kendaraan umum. Tende mengakui rugi kalau retribusi parkir tidak ditarik dari pemilik kendaraan.</p>
<p>Tende mengakui, sekarang Dishubkominfo masih berkonsentrasi pada pembenahan-pembenahan kendararan, seperti izin trayek, penertiban pengemudi ojek, pembekalan kepada para pengendara tentang etika berlalulintas.*Pos Kupang</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sumbaisland.com/retribusi-parkir-belum-ditarik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beri Sepeda Motor Operasional</title>
		<link>http://sumbaisland.com/beri-sepeda-motor-operasional/</link>
		<comments>http://sumbaisland.com/beri-sepeda-motor-operasional/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Aug 2011 19:17:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sumba Barat Daya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sumbaisland.com/?p=3790</guid>
		<description><![CDATA[SALAH satu sumber pemasukan daerah adalah pajak bumi dan bangunan (PBB). Di Sumba Barat Daya, jelas Kepala Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (PPKAD) SBD, Drs. Cyprianus Nono, kepada Pos Kupang di Tambolaka, Senin (1/8/2011), salah satu kiat yang ditempuh adalah memberikan sepeda motor operasional kepada desa-desa yang mencapai target pembayaran PBB. Menurut Nono, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-3796" style="margin-left: 3px; margin-right: 3px;" title="Retribusi-Parkir-Belum-Ditarik" src="http://sumbaisland.com/wp-content/uploads/2011/08/Retribusi-Parkir-Belum-Ditarik1.jpg" alt="" width="245" height="217" />SALAH satu sumber pemasukan daerah adalah pajak bumi dan bangunan (PBB). Di Sumba Barat Daya, jelas Kepala Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (PPKAD) SBD, Drs. Cyprianus Nono, kepada Pos Kupang di Tambolaka, Senin (1/8/2011), salah satu kiat yang ditempuh adalah memberikan sepeda motor operasional kepada desa-desa yang mencapai target pembayaran PBB.</p>
<p>Menurut Nono, untuk memacu aparat desa menarik PBB dari masyarakat, pihaknya memberi satu unit sepeda motor di desa-desa sebagai kendaraan operasional. Tahun lalu, dari 94 desa sudah 47 desa yang mendapat sepeda motor.</p>
<p>Tahun ini direncanakan akan diberi sepeda motor operasional kepada desa-desa yang belum mendapatnya. “Di tangki motor itu akan diberi label kendaraan operasional desa supaya motor itu tidak digunakan untuk tujuan lain seperti ojek,” kata Nono.*Pos Kupang</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sumbaisland.com/beri-sepeda-motor-operasional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jualan di Jalan Supaya Laku</title>
		<link>http://sumbaisland.com/jualan-di-jalan-supaya-laku/</link>
		<comments>http://sumbaisland.com/jualan-di-jalan-supaya-laku/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Aug 2011 07:53:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sumba Barat Daya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sumbaisland.com/?p=3746</guid>
		<description><![CDATA[TAMBOLAKA &#8212; Para pedagang kecil yang menjual sayur-sayuran, ubi-ubian, jagung, pisang meluber ke ruas jalan umum di Pasar Radamata, Tambolaka.  Mereka mengaku menjajakan jualan mereka hingga ke jalan supaya lebih cepat laku. Pasar ini merupakan pasar utama di Tambolaka saat ini. Pemerintah telah menyiapkan los-los pasar, meja-meja  jualan di tempat yang sebenarnya.  Tetapi para pedagang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-3748" style="margin-left: 3px; margin-right: 3px;" title="pasar-tambolaka" src="http://sumbaisland.com/wp-content/uploads/2011/08/pasar-tambolaka.jpg" alt="" width="297" height="300" /></p>
<p style="text-align: justify;">TAMBOLAKA &#8212; Para pedagang kecil yang menjual sayur-sayuran, ubi-ubian, jagung, pisang meluber ke ruas jalan umum di Pasar Radamata, Tambolaka.  Mereka mengaku menjajakan jualan mereka hingga ke jalan supaya lebih cepat laku.</p>
<p>Pasar ini merupakan pasar utama di Tambolaka saat ini. Pemerintah telah menyiapkan los-los pasar, meja-meja  jualan di tempat yang sebenarnya.  Tetapi para pedagang sayur-sayuran lari ke pinggir jalan menjajakan jualan mereka di situ.</p>
<p>Ny. Lusia Mete dan Matius Radubila, dua penjual sayur, kepada Pos Kupang, Senin (25/6/2011), mengatakan,  pilihan menjajakan jualan di pinggir jalan merupakan pilihan yang  terpaksa. “Kalau jual di dalam, tidak laku, tidak ada pembeli. Daripada tidak laku, kami jual di sini,” kata Ny. Lusia.<br />
Ibu rumah tangga asal Desa Mbukubero, Kecamatan Kodi Utara ini, menjelaskan, sebelumnya dia menjual di dalam pasar dan punya meja jualan.</p>
<p>Tetapi sejak lima bulan lalu, dia keluar dan menggelar jualannya di pinggir jalan. Hasil bumi jualannya seperti pisang, ubi, sayur-sayuran, tembakau, sirih, lombok, kelapa, kata Ny. Lusia, lebih cepat laku diincar pembeli jika dijual di dalam los pasar.<br />
Sebagaimana disaksikan, ruas jalan di samping mulut gang masuk ke Hotel Sinar Tambolaka itu padat dengan para penjual hasil bumi. Mereka hanya menguasai sisi utara jalan yang langsung berbatasan dengan  areal pasar.</p>
<p>Ny. Lusia dan Matius menjelaskan, saat awal-awal mereka menggelar jualan di situ, aparat Sat Pol PP mengusir dan menghalau mereka untuk kembali masuk ke pasar.<br />
“Tetapi karena kami sampaikan ke bupati, kami boleh menjual di sini. Bisa lihat khan, kami jual di sini tetapi tetap bersih, tidak kotor. Kami juga hanya mencari uang untuk hidup,” kata Ny. Lusia.</p>
<p>Matius menambahkan, setiap hari mereka dipungut retribusi Rp 1.000. Tiap pagi petugas bagi karcis. Nanti siang mereka datang ambil uang. Retribusi yang ditarik dari para pedagang kecil itu berdasarkan Perda Nomor 18 Tahun 2008. “Petugas dari Dispenda yang datang ambil uang nanti,” kata Matius.*Pos Kupang</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sumbaisland.com/jualan-di-jalan-supaya-laku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perampok Jadi Satpol PP</title>
		<link>http://sumbaisland.com/perampok-jadi-satpol-pp/</link>
		<comments>http://sumbaisland.com/perampok-jadi-satpol-pp/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Aug 2011 07:46:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sumba Barat Daya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sumbaisland.com/?p=3731</guid>
		<description><![CDATA[TAMBOLAKA &#8212; Program Desa Aman dari Bupati Sumba Barat Daya (SBD), dr. Kornelius Kodi Mete untuk menekan perampokan dan pencurian di SBD sebenarnya sudah baik. Salah satu langkahnya adalah merekrut para komandan perampok dan atau pencuri untuk menjadi anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). “Sebenarnya sudah sangat signifikan dan bermanfaat program bupati itu,” kata [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-3744" style="margin-left: 3px; margin-right: 3px;" title="Pater-Mikael-Keraf" src="http://sumbaisland.com/wp-content/uploads/2011/08/Pater-Mikael-Keraf1-252x300.jpg" alt="" width="252" height="300" />TAMBOLAKA &#8212; Program Desa Aman dari Bupati Sumba Barat Daya (SBD), dr. Kornelius Kodi Mete untuk menekan perampokan dan pencurian di SBD sebenarnya sudah baik. Salah satu langkahnya adalah merekrut para komandan perampok dan atau pencuri untuk menjadi anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).</p>
<p style="text-align: justify;">“Sebenarnya sudah sangat signifikan dan bermanfaat program bupati itu,” kata Direktur Yayasan Donders Waitabula, SBD, Pater Mikael Keraf, CssR kepada Pos Kupang di Tambolaka, Jumat (15/7/2011).</p>
<p style="text-align: justify;">Yayasan Donders merupakan yayasan di bawah asuhan Tarekat CSsR (Congretio Sanctissimi Redemptoris). Yayasan ini bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat desa dengan program antara lain penyadaran para perampok dan pencuri.</p>
<p style="text-align: justify;">Pater Keraf mengatakan hal itu ketika dimintai penilaiannya tentang kasus-kasus perampokan ternak di SBD. Aksi perampokan kerap menelan korban jiwa seperti yang terjadi di Kampung Wanokaka. Kecamatan Wewewa Timur, SBD, Kamis (14/7/2011). Dalam aksi perampokan itu, nyawa Philipus Pote Panda, pemilik ternak yang dicuri, tewas tertembus tombak para perampok.</p>
<p style="text-align: justify;">Pater Mikael menilai, Program Desa Aman sebagai salah satu dari empat isu strategis Pemkab SBD sudah baik dan sangat strategis menekan aksi perampokan ternak dan pencurian yang kerap disertai tindak kekerasan. Banyak perampok dan pencuri didekati untuk diajak meninggalkan kebiasaan buruk itu. “Salah satunya adalah merekrut para komandan perampok dan pencuri itu menjadi Satpol PP,” kata Keraf.</p>
<p style="text-align: justify;">Bupati Kodi Mete yang dihubungi melalui handphonenya, Jumat petang, mengakui baru mengetahui aksi perampokan berdarah itu dari wartawan Pos Kupang. “Saya baru turun dari pesawat. Baru dengar nih,” ujarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kodi Mete mengatakan, Program Desa Aman ada dampaknya. “Tetapi kalau menghapus sama sekali perampok dan pencuri di Sumba, saya kira tidak bisalah. Butuh waktu sangat lama,” katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat mencanangkan Program Desa Aman, pihaknya bersama aparat pemerintah sampai di tingkat paling bawah terus melakukan pendekatan dan mencari jalan untuk menekan aksi perampokan ternak itu. “Aparat desa itu selalu kita kumpulkan, kita bahas dan diskusikan apa penyebabnya dan bagaimana menyelesaikannya. Prinsipnya kita terus berupaya menyadarkan masyarakat agar tidak lagi terlibat dalam aksi perampokan dan pencurian,” paparnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pengakuan Diri</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ditanyai pengalaman dan pengamatannya tentang motif para perampok, Pater Mikael Keraf mengatakan ada beragam motif. Dia menyebut pengakuan diri sebagai motif paling utama. “Merampok dan mencuri itu masih menjadi salah bentuk pengakuan diri. Siapa mencuri lebih banyak dan bisa masuk ke kampung yg dijaga ketat, dia dianggap jagoan dan bisa menjadi komandan,” kata rohaniwan Katolik asal Lamalera, Lembata ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari pengalamannya menyadarkan para perampok, Pater keraf mengetahui baik kalau para perampok itu sangat terlatih dan piawai. “Para komandannya itu sangat ahli dalam strategi. Kemampuan mereka mengorganisir para anggotanya juga luar biasa. Mereka itu punya peta jalan dan tahu gua-gua. Mereka tahu kalau curi di kampung ini mesti jalan ikut mana,” tuturnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Motif kedua, sebutnya, adalah mencoba ilmu gaib (black magic). Pater Keraf menyebut satu wilayah di SBD yang sangat terkenal dengann ilmu gaibnya. Para perampok itu membutuhkan ‘arena’ untuk menguji ilmunya. “Kalau sudah kebal, luka tombak atau tembak, langsung sembuh hanya dibasuh dengan air,” katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Motif ketiga, desakan ekonomi. Para perampok dan pencuri umumnya miskin, tidak ada yang kaya. Sudah begitu, katanya, anak mereka juga banyak, bisa sampai sembilan orang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tentu mereka harus makan. Kalau tidak ada makanan di rumah, ya, terpaksa curi. Para istri itu tahu bahwa barang-barang curian itu ‘panas’. Pelihara pasti terkena penyakit, tanam susah tumbuh. Tetapi karena tidak ada bahan makanan, ya, terpaksa terima saja barang-barang ‘panas’ itu,” katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Motif keempat, aksi perampokan dan pencurian itu ditunjang oleh adanya penadah. “Jadi ada unsur bisnisnya. Hewan-hewan curian itu kemudian dijual kepada penadah, baik di Sumba maupun di luar Sumba,” katanya.* <em>Pos Kupang</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sumbaisland.com/perampok-jadi-satpol-pp/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentara, Polisi dan Umat Gotong Royong di Masjid</title>
		<link>http://sumbaisland.com/tentara-polisi-dan-umat-gotong-royong-di-masjid/</link>
		<comments>http://sumbaisland.com/tentara-polisi-dan-umat-gotong-royong-di-masjid/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jul 2011 08:01:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sumba Barat Daya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sumbaisland.com/?p=3752</guid>
		<description><![CDATA[TAMBOLAKA &#8212; Kebersamaan dan solidaritas antarumat beragama di Tambolaka diperlihatkan melalui aksi gotong-royong dan kerja bakti di Masjid Agung Al Falah, Tambolaka, Minggu (17/7/2011) pagi. Kerja bakti ini melibatkan personil  TNI dari Koramil 1613/02 Laratama, Sumba Barat Daya, Polsek  Loura, Brimob Kompi D Sumba Barat Daya dan  umat setempat. Danramil  1613/02 Laratama, Kapten (Inf) Suyono, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-3754" style="margin-left: 3px; margin-right: 3px;" title="Gotong-Royong-Masjid-Tambolaka" src="http://sumbaisland.com/wp-content/uploads/2011/08/Gotong-Royong-Masjid-Tambolaka.jpg" alt="" width="298" height="266" />TAMBOLAKA &#8212; Kebersamaan dan solidaritas antarumat beragama di Tambolaka diperlihatkan melalui aksi gotong-royong dan kerja bakti di Masjid Agung Al Falah, Tambolaka, Minggu (17/7/2011) pagi. Kerja bakti ini melibatkan personil  TNI dari Koramil 1613/02 Laratama, Sumba Barat Daya, Polsek  Loura, Brimob Kompi D Sumba Barat Daya dan  umat setempat.</p>
<p>Danramil  1613/02 Laratama, Kapten (Inf) Suyono, Kapolsek  Loura, AKP Teguh, Ketua Panitia Pembangunan Masjid Al Falah,  Hasan Saleh Ambar, dan Koordinator  Pembangunan, Haji Bandi Wibowo, terlibat langsung dalam kerja bakti itu.</p>
<p>Sebagaimana disaksikan Pos Kupang, kemarin, para personel polisi, tentara,  brimob dan warga umat semangat bekerja menguruk tanah di depan dan belakang masjid. Di halaman depan masjid, tanah diratakan, sedangkan di belakang masjid tanah ditimbun di lokasi pembangunan yang direncanakan sebagai tempat mengaji dan pertemuan.</p>
<p>“Kita sama-sama kerja bakti. Nanti setiap hari Minggu akan ada kerja bakti. Sudah dua minggu ini kita jalani,” kata Kapten Suyono dibenarkan Hasan Saleh dan Haji Bandi Wibowo.<br />
Hasan Saleh dan Haji Bandi mengatakan, perluasan masjid itu merupakan swadaya umat dan juga sumbangan para donatur.  “Selalu saja ada  yang menyumbang untuk pembangunan,” kata Haji Bandi.</p>
<p>Hasan Saleh mengatakan, kerja bakti itu tidak cuma melibatkan  umat Islam. Umat beragama Katolik dan Protestan juga terlibat aktif. “Di Koramil yang beragama Islam hanya dua orang, termasuk saya,” kata Kapten Suyono.<br />
Personel TNI di Koramil ada 14  orang, sedangkan personil polisi di Polsek Loura 28 orang.</p>
<p>Menurut Hasan Saleh, luas Masjid Al Fala itu agak sulit diperluas lagi. Mengantisipasi bertambahnya umat dan kemajuan kota ke depan, pihak panitia sedang memikirkan rencana pembangunan masjid raya di tempat lain dengan halaman yang lebih luas lagi. Dari pengamatan Pos Kupang, lokasi masjid ini terkepung di tengah rumah penduduk. Perluasan bangunan sudah tidak memungkinkan lagi.*Pos Kupang</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sumbaisland.com/tentara-polisi-dan-umat-gotong-royong-di-masjid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Angkot, Peluang yang Terabaikan</title>
		<link>http://sumbaisland.com/angkot-peluang-yang-terabaikan/</link>
		<comments>http://sumbaisland.com/angkot-peluang-yang-terabaikan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jul 2011 18:39:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita NTT]]></category>
		<category><![CDATA[Sumba Barat Daya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sumbaisland.com/?p=3725</guid>
		<description><![CDATA[MESKI derap pembangunan terlihat  cepat dan pesat dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten  pemekaran lain di NTT, Kota Tambolaka, Ibukota Kabupaten Sumba Barat Daya, sejauh ini belum memiliki moda transportasi dalam kota (Angkot). Sejak resmi berpisah dari kabupaten induk, Sumba Barat, 22 Mei 2007 lalu, Tambolaka mengandalkan ojek sebagai  andalan transportasi dalam kota. Ojek juga masih bebas‘beroperasi tanpa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-3727" style="margin-left: 3px; margin-right: 3px;" title="ojek sumba" src="http://sumbaisland.com/wp-content/uploads/2011/07/ojek-sumba-300x212.jpg" alt="" width="290" height="205" />MESKI derap pembangunan terlihat  cepat dan pesat dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten  pemekaran lain di NTT, Kota Tambolaka, Ibukota Kabupaten Sumba Barat Daya, sejauh ini belum memiliki moda transportasi dalam kota (Angkot).</p>
<p>Sejak resmi berpisah dari kabupaten induk, Sumba Barat, 22 Mei 2007 lalu, Tambolaka mengandalkan ojek sebagai  andalan transportasi dalam kota. Ojek juga masih bebas‘beroperasi tanpa ada pangkalan-pangkalan dengan kawasan operasi  yang ditentukan.</p>
<p>Menurut Sekretaris Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kabupaten SBD, John Tende, S.H, di Tambolaka, Kamis (21/7/2011),  moda angkutan  darat di SBD berupa bemo dan minibus hanya menghubungkan Tambolaka dengan daerah-daerah di luar kota seperti Tambolaka-Kodi dan  Tambolaka-Waikabubak, Ibukota Kabupaten Sumba Barat.  “Ada sekitar  50-an unit bemo dan minibus,” kata Tende.</p>
<p>Transportasi dalam kota di Tambolaka, sebagaimana disaksikan, memang hanya ojek. Bemo dan minibus yang  ada beroperasi ke luar kota.  Di mana-mana ojek berseliweran. Tarifnya jauh dekat Rp 2.000.  Kondisi seperti ini  menyulitkan  para pendatang dan atau tamu dari luar yang ingin berkelana di Tambolaka dan mau menyaksikan tempat-tempat bersejarah atau  obyek-obyek wisata.</p>
<p>Tentang moda transportasi dalam kota, mantan wartawan Pos Kupang ini mengatakan, “Ini peluang bisnis yang belum dilirik  para pengusaha. Kita harapkan agar ada pengusaha yang berinvestasi di bidang angkutan kota,” katanya.<br />
Menyangkut pengaturan ojek, Tende mengatakan, saat ini Dishubkominfo setempat sedang melakukan sosialisasi untuk menata para tukang ojek agar menjadi lebih teratur, tertib dengan area operasi yang terfokus.</p>
<p>Tende juga mengatakan, Dishubkominfo setempat juga berkoordinasi dengan lantas Polsek  Loura untuk memberikan penyuluhan dan pembekalan kepada para pengojek menyangkut tertib berlalu lintas. “Karena banyak yang belum punya SIM, kita akan bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk memberikan penyuluhan mengenai etika berlalu lintas,  dan    memberikan mereka SIM,” kata Tende.*Pos Kupang</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sumbaisland.com/angkot-peluang-yang-terabaikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

