• Home
  • Tentang Sumba
    • Budaya Sumba
    • Peta Sumba
    • Geografis Sumba
    • Pasola Sumba
  • Photo Gallery
  • Info Sumba
    • Sumba of Events
    • General Info
    • Hotel & Resort
      • Sumba Nautil Resort
      • Nihiwatu Resort
      • Monalisa Cottages
      • Manandang Hotel
      • Artha Hotel
    • Pasola Information
      • Pasola Festival 2009
      • Pasola Festival 2010
  • Buku Tamu
  • Berita NTT
  • Sosok
  • Sumba Package Tours
  • Sumba Zone
    • Sumba Barat
    • Sumba Barat Daya
    • Sumba Tengah
    • Sumba Timur
  • Teknologi
Thursday, September 9, 2010
  • News Feed
  • Comments Feed

Ibu Aloysia Kolin Berkisah: Perkembangan Paroki Sang Penebus

Thursday, February 12, 2009, 23:20 | 859 views

ibu_aloysia_kolinIbu Aloysia Kolin yang akrab disapa Nenek Guru telah tiada. Itu terjadi pada tanggal 10 September 2008 dalam usia 94 tahun. Tapi jasa yang ditinggalkannya untuk gereja dan sesama tidak kecil. Hal itu dapat dilihat dari hari pengebumiannya 15 September 2008 yang mana Gereja Sang Penebus Wara Waingapu dipadati oleh umat, baik dari golongan Islam, Protestan, maupun dari kalangan Katolik. Tidak kurang dari 22 imam yang merayakan misa reqiem dalam rangka pelepasan jenasah almarhum untuk dikebumikan di pekuburan Katolik Wara. Betapa Ibu Aloysia Kolin dan Bapak Mikhail Wuring Muda, suaminya, menjadi peletak dasar agama Katolik di Paroki Sang Penebus Waingapu, beberapa waktu yang lalu penulis sempat berbincang-bincang dengannya. Inilah kisahnya;

Waktu itu tahun 1939. Seorang pemuda berusia 27 tahun kelahiran Lewo Awan Flores Timur, tepatnya 29 September 1912, menginjakkan kaki untuk pertama kali di Waitebula. Pemuda yang mendapat pendidikan seminari rendah Mataloko, kemudian melanjutkan ke seminari tinggi Sika, rupanya tidak terpanggil menjadi imam, karena itu tidak meneruskan sejak tahun 1938. Dia diutus ke Waitabula sebagai pewarta injil dengan wilayah kerja Sumba Barat dan Sumba Timur. Pemuda itu adalah Mikhail Wuring Muda yang kemudian menjadi suami Ibu Aloysia Kolin. Menreka menikah 7 Agustus 1941.

Sebagai Pastor Paroki Waitabula saat itu Pater Aloysius de Rechter. Bersama Pater de Rechter, Mikhail Wuring Muda mengunjungi Waingapu tiga bulan sekali mewartakan injil. Hubungan lalulintas Sumba Barat dan Sumba Timur waktu itu sangat sulit. Jalan raya juga masih buruk. Pernah ‘oto’ mereka terbalik di Tana Daru, tapi untung masih selamat meski mereka mengalami cedera kecil yang tidak membahayakan.

Karena pertimbangan sulitnya hubungan lalu-lintas, maka sejak 1940 Bapak Mikhail Wuring Muda menetap di Waingapu hingga menikah dengan Ibu Aloysia Kolin kelahiran Larantuka 20 Juni 1914.

Mulai saat itu keluarga muda menjalin hubungan dengan beberapa nama; Hendrik Hena Ama, Ola Tokan dan Kapitan yang kemudian menjadi murid mereka yang pertama. Dan inilah yang menjadi cikal-bakal umat Katolik di Waingapu. Bapak Mikhail dan Ibu Aloysia memilih tempat tinggal di Pakamburung. Dari sinilah kegiatan gerejawi dilaksanakan seperti berdoa bersama serta latihan nyanyi bersama. Untuk menjalin kerjasama, Bapak Mikhail segera menjalin hubungan dengan beberapa pendeta, diantaranya Pendeta Dara dan Pendeta Bapa Pa (ayah Ibu Paulina Bara Pa mantan Pemimpin SMP 2 Waingau). Karena sulitnya mengabar injil untuk memupuk dulu iman beberapa anggota yang waktu itu sudah belasan orang yang berada dalam kota.

Perkembangan umat Katolik yang mulai berkecambah tiba-tiba terhambat ketika Jepang mendarat di Waingapu. Bom dijatuhkan dan penduduk kota berlarian mencari tempat persembunyian. Atas bantuan seorang mantan napi Bapak Mikhail dan Ibu Aloysia dihantar ke Makamenggit 30 KM dari Waingapu dan menetap hampir satu tahun. Meskipun demikian Bapak Mikhail turun Waingapu dua minggu sekali dengan menunggang kuda yang disiapkan oleh Ama Tua Deru mantan Napi yang menyelamatkan keluarga tadi. Di Panda ada rumah Bapak Hendrik Hena Ama yang waktu itu pegawai penjara. Di sinilah Bapak Mikhail menginap dan menghimpun kembali umat awal yang berjumlah belasan orang untuk berdoa dan bernyanyi bersama yang diambil dari lagu-lagu Gregorian.

Pada suatu hari orang Jepang menggeledah rumah0-rumah di Pakamburung. Tidak terkecuali rumah keluarga Bapak Mikhail. Koper yang berisi pakaian misa (walaupun pastor tidak ada, tapi selalu dibawa di tempat berdoa) digeledah. Begitu orang Jepang melihat salib, penggeledahan dihentikan. Dengan hormat yang mendalam si jepang meninggalkan rumah itu.Dan Bapak Mikhail merasa aman.

Di Makamenggit terjadi mukjisat kecil. Pada suatu hari Ibu Aloysia diinterogasi oleh beberapa tentara Jepang yang mengira ibu ini orang Belanda karena berkulit putih. “Ibu orang Belanda, ya?” tanya tentara Jepang. “Tidak tuan, saya orang Flores” jawab Ibu Aloysia. “itu tidak mungkin. Mana ada orang Flores yang putih” lanjut tentara Jepang yang tidak yakin meskipun beberapa orang Makamenggit membenarkan bahwa ibu ini benar orang Flores. Tentara Jepang bertanya terus sambil mengayun-ayunkan samurainya (kelewang). Tiba-tiba ada ayam terbang dan hinggap persis di depan tentara tadi. Serta merta tentara itu meninggalkan Ibu Aloysia lalu mengejar ayam karena memangnya ini yang mereka cari di setiap kampung. Sedapat ayam itu tentara kembali lai. Ama Tua Deru segera menemui tentara Jepang, dan dalam sikap ramah dia menjanjikan ayam tiap kali datang ke Makamengit asal Ibu Aloysia tidak dipengapakan. Tentara Jepang setuju.

Pada tahun 1944 Mgr. Ogihara uskup Jepang mengunjungi Waingapu. Di Waingapu Bapak Uskup menyakan kalau-kalau di sini ada orang Katolik. Bapak Mikhail sekeluarga bersama umat menghadap Bapak Uskup yang disaksikan oleh pembesar-pembesar Jepang. Peristiwa ini membawa hikmat bagi perkembangan umat selanjutnya. Karena sejak peristiwa itu Bapak Mikhail dan keluarga Katolik lainnya tidak lagi diamat-amati apalagi digeledah oleh tentara Jepang.

Suatu hai di Panda. Sementara BApak Mikhail memimpin kebaktian (tanpa imam tentunya), tiba-tiba ada bunyi sirene. Pesawat terbang begitu rendah. Semua orang di dalam rumah, apalagi ibu-ibu berlarian mencari lubang persembunyian. Karena Bapak Mikhail tidak ada di tempat persembunyian, orang panik mencarinya. Ternyata Bapak Mikhail masih di dalam rumah tadi. Beliau sedang asyik menyusun kembali pakaian misa menurut susunan semula; kasula, alba, amik, stola, manipel, singelum. Bom pun dijatuhkan di Wangga lama, barulah Bapak Mikhail lari ke tempat persembunyian.

Setelah situasi agak aman Bapak Mikhail membuat rumah dekat SD (SR) Anda Luri lama dan gedung gereja lama. Bapak Hendrik Hena Ama adalah kawan setia. Seperti dituturkan Ibu Aloysia saat itu umat belum bisa berkembang karena situasi belum kondusif. Untuk mendapakan ijasah guru sekolah, karena sulitnya tenaga guru waktu itu, Bapak Mikhail melanjutkan ke Normal School di Ndona Flores. Sementara Ibu Aloysia mengajar di SR Ndona karena memiliki ijasah OVO (tamat tahun 1930 di Larantuka).

Setelah menamatkan Normal School Bapak Mikhail dan Ibu Aloysia kembali ke Sumba, namun bukan di Waingapu, melainkan di Waitebula. Bapak Mikhail dan Ibu Aloysia mengajar di SR Waitebula. Waktu itu SMP Waitebula dibuka yang dipimpin oleh Pater de Rechter. Bpak Mikhail dialihkan ke SMP untuk mengajar Bahasa Inggris. Karena belum ada kelas III semua siswa harus melanjutkan ke SMP Pancrasio di Labao Larantuka. Salah satu siswa yang melanjutkan ke sana yang masih diingat Ibu Aloysia adalah Jacobus Tedenz (kini mantan Lurah Waitebula).

Tahun 1955 Juli Bapak Mikhail pindah Waingapu. Bapak Mikhail mengajar di SMP Anda Luri sedangkan Ibu di SR (SD) Anda Luri. Pemimpin SMP Pater Donkers merangkap Pastor Paroki menggantikan Pater Kale Bale. Waktu itu sudah ada umat di Kalumbang dan Panda. Yang namanya pastor pembantu belum ada.

Setelah Pater Donkers menyusul Pater Gerhard Legeland dari Kongregasi CSSR yang menggantikan Kongregasi SVD di Sumba. Pater Gerhard Legeland menjadi Pastor Paroki Wara (Sang Penebus) yang gedungnya diresmikan pada 8 September 1956. Pater Gerhard Legeland kemudian dilantik menjadi Perfek Apostolik Sumba-Sumbawa. Beliau mendirikan KGA (Kursus Guru Agama), yang kemudian berganti SGA (Sekolah Guru Agama) dan terakhir menjadi IPGA (Institut Pendidikan Guru Agama).

Tahun 1970 Bapak Mikhail Wuring Muda dan Ibu Aloysia Kolin pensiun (Bapak guru swasta, Ibu guru negri), namun dalam kegiatan gerejawi keduanya tetap aktif. Ibu Aloysia menangani anak temu minggu hingga tahun 2000, kemudian menerima katekumen. Bapak Mikail Wuring Muda meninggal 11 Juni 1977. Namun namanya tetap dikenang sebagai peletak dasar iman kristiani di Paroki Sang Penebus. Di bidang pendidikan beliau juga tetap dikenang dalam lagunya “Mars Anda Luri”.

Saat meresmikan gedung gereja Sang Penebus yang baru belum lama ini, Ibu Aloysia mengenangkan kembali pembangunan gedung gereja lama. Ada swadaya umat berupa batu dan pasir. Ibu Aloysia masih ingat betapa setiap istirahat, anak-anak SD dibawah bimbingan Ibu ramai-ramai mengambil pasir kali (karena tidak jauh), dan itu hanya memakai tempurung kelapa. Disebutkan pula, Om Buto yang adalah tukang Don Bosco waktu itu sangat berperanan dalam membangun gedung gereja lama.

“Saya sekarang dalam usia 92 tahun (diungkapkan 25 Juli 2006) senang sekali masih bisa menyaksikan pentahbisan gedung gereja yang baru”, kata Ibu Aloysia yang akrab dipanggil Nenek Guru atau Mama Nyora oleh anak-anak temu minggu, bahkan oleh orang-orang dewasa. “Tapi harapan saya”, Ibu Aloysia melanjutkan lagi, “Kuantitas umat yang sudah begitu banyak, hendaknya diimbangi juga dengan kualitas iman”. Demikian Ibu Aloysia mengakhiri ceritanya.

Artikel: Frans W. Hebi
Copyright : Waingapu.com

Related Article :
  • Ignatius-Maria Harumkan Nama NTT
  • Mariana Kareri Hara, Mengajar Sambil Gendong Anak
  • Atlet KKI Jaga Nama NTT
  • Semoga Sumba-ku Mendunia
  • Cari Kepuasan dalam Tulisan
  • Ignatia Sabrina Akan Kembali ke Kupang
  • Agustinus Umbu Rauta: Krusial, Pemimpin Pertama Kabupaten Sumba Tengah
  • Drs. Umbu Dedu Ngara



You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
You can leave a response, or trackback from your own site.

2 Responses to “Ibu Aloysia Kolin Berkisah: Perkembangan Paroki Sang Penebus”

  1. ika ratna sari said on Wednesday, March 18, 2009, 18:16

    Walaupun jasad tiada lagi telihat namun jiwa mu,Nene Guru,tetap melekat di hati kami anak2mu.

  2. Ivon Keraf said on Wednesday, July 8, 2009, 23:59

    iiaaaaah ….. tetap saiank nene guru ….
    makasih bwad nama “Aloysia” yg sudah dikasih buad sya ….

Leave a Reply


Indonesia Traveling & Adventure

PT. VIP Tour Travel - Bali Hotels & Villas Booking Online - Bali Package Tours - Bali Spa, Wedding, Domestik Tour, Rent Car, Activity, Bali & Beyond

Ayo Dukung Pulau Komodo Menjadi New 7 Wonders of Nature

  • Artikel Terbaru

    • Penyakit Sura Masuk Sumba Timur
    • Julius Muhu, Plh Bupati Sumbar
    • Pelantikan Bupati & Wakil Bupati Sumba Timur
    • Klarifikasi Tapal Batas Wanggameti
    • Pekarangan Rumah Warga Loura Digusur
    • MK Tolak Permohonan PHPU Kab. Sumba Barat
    • Tim Terpadu Pastikan Batas TN Wanggameti
    • Warga Kalaki Kambe, Desa Kadipada, Kecamatan Wewewa Barat Tewas
    • MK Tolak Gugatan Sengketa Pemilukada Sumba Barat
    • Hasil Pemilukada Putaran Kedua Sumba Barat Digugat ke MK
    • Sidang Ke 2 Permohonan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Sumba Barat Di gelar Dalam 2 Sesi
    • SK Lerik Diabadikan Sebagai Nama Jalan
    • Xanana Tantang Kontraktor NTT
    • SK Lerik, Arsitek Kota KASIH
    • Hari Ini Jenazah SK Lerik Tiba di Kupang
    • NTT Punya 14 Bandara dan 42 Pelabuhan
    • Ignatius-Maria Harumkan Nama NTT
    • Karnaval Memperingati HUT RI Ke-65
    • Mantan Walikota Kupang Meninggal Dunia
    • Jumlah Penduduk NTT 4,6 Juta
    • Bupati Sumba Timur Dilaporkan ke Polisi
    

  • Link Partners

    • Bali Blogger
    • Baliorange Communications
    • Baliorange WebBlog
    • Flobamora Blogger NTT
    • Indonesia Travel Guides
    • Pemda NTT
    • Pos Kupang
    • Sumba Barat Kab.
    • Sumba Timur Kab.
    • Sumba Tours
    • VIP Tour Travel Bali
    • Waingapu.Com
    • Warung Mp3
PT. Lombok Tropic Holidays Indonesia Komunitas Blogger NTT Pos Kupang - Suara Nusa Tenggara Timur Asal Usul Corat Coret - Menulis & Berkomentar Tentang Apa Saja Free Download Mp3 Indonesia Terbaru

eXTReMe Tracker

Bali FLower Shop - Toko Bunga Online di BALI ....Buruan Discount 10%
  • Sumba Barat
  • Sumba Timur
  • Sumba Barat Daya
  • Sumba Tengah
  • Berita NTT
Julius Muhu, Plh Bupati Sumbar

Julius Muhu, Plh Bupati Sumbar

Wednesday, September 1, 2010 9:53 |118 views

WAIKABUBAK,  Menteri Dalam Negeri (Mendagri) menunjuk Ir. Julius Muhu sebagai Pelaksana Harian Bupati Sumba Barat karena masa tugas Bupati Drs. Julianus Pote Leba  dan wakilnya, Toda Lero Ora, S.H, berakhir tanggal 30 Agustus 2010. Julius Muhu yang juga Sekda Sumbar itu menjadi Plh Bupati Sumbar sampai Bupati dan Wabup Sumbar terpilih, Jubilate Pieter Pandango-Reko Deta dilantik. Kepala Bagian (Kabag) Tata Pemerintahan Setda Sumba Barat, Drs. Imanuel M Anie mengatakan itu di kantor Bupati Sumba Barat, Senin (30/8/2010). Ia  sempat memperlihatkan surat Mendagri yang difaks ke Waikabubak yang diterima tanggal 30 Agustus 2010 pagi. Isi surat ...

Berita lainnya di Sumba Barat
  • Selengkapnya
  • 0 Komentar
Penyakit Sura Masuk Sumba Timur

Penyakit Sura Masuk Sumba Timur

Thursday, September 2, 2010 17:47 |51 views

PENYAKIT sura yang selama ini menyerang hewan besar di Sumba Barat dan Sumba Barat Daya mulai masuk ke wilayah Sumba Timur. Dalam sebulan terakhir ditemukan satu kasus di wilayah bagian barat Sumba Timur. Informasi  yang diperoleh Pos Kupang dari sumber yang berkompeten, Senin (30/8/2010), menyebutkan, sejauh ini baru ditemukan satu kasus ternak yang terserang penyakit sura. Namun hewan yang terjangkit penyakit sura itu langsung ditembak dan dikubur.  Lokasi di sekitar kubur  hewan yang terjangkit penyakit sura langsung dilokalisir dan diberi  vaksin. Sebelum penyakit  yang menyerang plasma darah itu memasuki Sumba Timur,  Pemerintah Kabupaten Sumba Timur ...

Berita lainnya di Sumba Timur
  • Selengkapnya
  • 0 Komentar
Pekarangan Rumah Warga Loura Digusur

Pekarangan Rumah Warga Loura Digusur

Thursday, August 26, 2010 18:59 |62 views

TAMBOLAKA, Warga di wilayah Kecamatan Loura, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), khususnya yang mendiami wilayah sepanjang ruas jalan dari Polsek Loura hingga Bandara Tambolaka, serta ruas jalan dari pertigaan Pasar Inpres Tambolaka hingga Pelabuhan Weekelo merelakan sebagian tanah pekarangan rumahnya digusur demi perluasan jalan raya. Bahkan sebagian rumah dan kios terpaksa dibongkar karena terkena pelebaran jalan. Warga dengan kerelaannya membongkar sendiri dan memindahkan ke tempat yang aman setelah diukur petugas. Beberapa warga Loura yang enggan menyebutkan namanya ditemui di kediamannya di Tambolaka, Senin (23/8/2010), mengaku awalnya mereka keberatan dengan rencana perluasan jalan raya oleh pemerintah dengan ...

Berita lainnya di Sumba Barat Daya
  • Selengkapnya
  • 0 Komentar
Polhut Hadang Pekerja Jalan di Sumba Tengah

Polhut Hadang Pekerja Jalan di Sumba Tengah

Sunday, August 1, 2010 3:50 |127 views

Sumba Tengah,  Aparat Polisi Kehutanan (Polhut) Taman Nasional (TN) Manupeu Tanadaru menghadang pekerja proyek jalan nasional di ruas jalan negara Kilometer (Km) 105,  tepatnya di lokasi hutan Taman Nasional (TN) Manupeu Tanadaru di wilayah Sumba Tengah (Sumteng). Hal ini dibenarkan PPK Preservasi Jalan dan Jembatan Sumba Barat, Herman Koreh, ST, saat ditemui di Kupang, Kamis (29/7/2010). Herman  ditemui terkait realisasi fisik pekerjaan proyek tahun 2010 yang ditangani PPK di lintasan jalan nasional di wilayah perbatasan Sumba Barat dan Sumba Timur. Herman menjelaskan, dalam pelaksanaan pekerjaan  berkala berupa hotmix di Km 105, pihaknya sempat dihadang  aparat  Polhut  ...

Berita lainnya di Sumba Tengah
  • Selengkapnya
  • 0 Komentar
SK Lerik Diabadikan Sebagai Nama Jalan

SK Lerik Diabadikan Sebagai Nama Jalan

Saturday, August 21, 2010 6:59 |98 views

KUPANG, SK Lerik (alm) telah membangun Kota Kupang dengan semangat kasih, menoreh banyak karya untuk kemajuan Kota Kupang. Untuk mengenang jasa-jasanya, Pemkot Kupang akan mengabadikan nama SK Lerik sebagai nama jalan di Kota Kupang. Walikota Kupang, Drs. Daniel Adoe mengatakan itu saat menjadi inspektur upacara pemakaman jenazah SK Lerik di Taman Makam Pahlawan Dharmaloka, Kupang, Jumat (20/8/2010). "Kepemimpinan SK Lerik sebagai walikota dua periode patut jadi model yang layak diteladani. Beliau adalah orang yang komit dan teguh dalam menjalankan tugas. Taat dan disiplin serta rasa tanggung jawab yang tinggi," kata Walikota Adoe....

Berita lainnya di Berita NTT
  • Selengkapnya
  • 0 Komentar
  • Terkini
  • Komentar
  • Tags
  • Penyakit Sura Masuk Sumba Timur - 51 views Dengan 0 Komentar Sejak Thursday, September 2, 2010 17:47
  • Julius Muhu, Plh Bupati Sumbar - 118 views Dengan 0 Komentar Sejak Wednesday, September 1, 2010 9:53
  • Pelantikan Bupati & Wakil Bupati Sumba Timur - 104 views Dengan 0 Komentar Sejak Wednesday, September 1, 2010 9:49
  • Klarifikasi Tapal Batas Wanggameti - 37 views Dengan 0 Komentar Sejak Wednesday, September 1, 2010 9:43
  • Pekarangan Rumah Warga Loura Digusur - 62 views Dengan 0 Komentar Sejak Thursday, August 26, 2010 18:59

  • oetje: sukses ... buat Pater Robert .... dengan penuh har...
  • BENI: pak bos (Polisi).,.,. atur yang baik sedikit tu a...
  • BENI: Saya setuju Dan berharap Penerapan praktik pertani...
  • kristoforusbili: Wah....senang rasanya...ada orang Sumba Asli yang ...
  • kristoforusbili: Mantap!!! Lanjutkan perjuangannya Pak! N lebih cep...
  • rini bato: jelas aja semrawut............terminal sbg tempat ...
  • rini bato: Oh my GOD...........bayar hutang buat makan sendir...
447 Caleg Rebut 30 Kursi DPRD Sumtim Bupati Meninggal Dunia Verifikasi DPD Sumba Timur Dihen Dermaga Weekelo Buka Isolasi Sumba Drs. Umbu Sappi Pateduk Canangkan Gerakan Seribu Ternak Gidion Dilantik Jadi Bupati Sumtim Jelang Musim Tanam- Warga Waihibur Minta Handtractor Kantor Bupati Sumba Barat Daya Telan Dana Rp 6.3 M Korban Tewas Akibat Gizi Buruk di NTT Bertambah Lahan Rakyat Masuk Kawasan Taman Nasional (KTN) Mantan Wakapolres Sumba Timur Diberi Teguran Pembangunan Pasar Matawai Capai 50 Persen Pemkab Sumba Tengah Siapkan Dana Untuk Jaringan Telepon Pemprop Diminta Bayar Gaji Guru Honor SDK Gollu Sapi Sumba Barat Daya Stop Dreaming Start Action Sumba Timur Dapat Subsidi Kedelai Sumteng Butuh Pemimpin Berhati Luhur Sumtim Tak Perlu Wabup Tiga Sukses Umbu Saga Anakaka Warga Kambajawa Krisis Air Warga Kodi Kunsumsi Air Kali Warga Minta Bupati Basmi Pencuri Warga Pahomba Minta Mobil Tangki Warga Weetebula Krisis Air Bersih
  • Berita NTT
  • Sosok
  • Sumba Package Tours
  • Sumba Zone
    • Sumba Barat
    • Sumba Barat Daya
    • Sumba Tengah
    • Sumba Timur
  • Teknologi
Copyright © 2007 - 2010