WAIKABUBAK, PK- Pemerintrah Kabupaten (Pemkab) Sumba Barat (Sumbar) melalui Dinas Sosial membantu 400 kg beras, 20 dos mie, 20 lembar tikar, kecap, ikan kering dan peralatan dapur kepada belasan kepala keluarga (KK) di Kampung Kamotorara Bisa, Desa Kabukarudi, Kecamatan Lamboya, Kabupaten Sumba Barat, yang rumahnya terbakar, Senin (18/8/2008) sekitar pukul 13.00 Wita.
Bantuan itu diserahkan oleh Kepala Bidang Bantuan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Nakertrans) Sumbar, Dominggus Bola bersama Camat Lamboya, Thimotius Woda Sappu, di lokasi kejadian, Rabu (20/8/2008). Bantuan itu dibagi langsung kepada para korban. Bola yang ditemui di lokasi penyerahan bantuan, mengatakan, bantuan itu merupakan langkah awal yang sifatnya darurat. Untuk bantuan lanjutan, kata Bola, pihaknya masih menunggu laporan lengkap dari camat. Dia akan mengusulkan kepada bupati untuk membantu bahan bangunan agar korban kebakaran secepatnya mempunyai tempat tinggal.
Saat ini para korban menumpang di rumah sanak keluarga atau tetangga yang luput dari amukan si jago merah. “Kami juga pikirkan pemugaran kamput adat yang punya nilai sejarah dan daya pikat bagi wisatawan. Tapi ini program jangka panjang. Saat ini kita fokuskan bagaimana korban memperoleh tempat tinggal pasca kebakaran itu,” kata Bola. Sebelas rumah adat beratap alang-alang beserta isinya ludes dilalap si jago merah. Bahkan uang tunai Rp 40 juta milik salah seorang warga ikut ludes. Saat kejadian sebagian warga kampung itu tengah melakukan kerja kelompok mempersiapkan lahan. Warga tak sempat menyelamatkan barang-barang seperti perabot dapur, pakaian, emas, mamoli, juga ternak yang dilepas di bawa kolong rumah panggung itu. Para korban hanya mengenakan pakaian di badan. Marselinus Gela, menuturkan sebelas KK yang menjadi korban minimal beranggotakan tujuh jiwa. Dia mengaku belum mendata secara rinci jumlah jiwa yang kehilangan tempat tinggal.
Dia menuturkan, rumahnya banyak penghuni. Selain keluarga inti, juga sanak keluarga yang menumpang. “Maklum saja, kultur kami di sini seperti itu. Kami punya sanak keluarga jadi ada yang datang dan tinggal bersama kami. Saat kejadian, di rumah kami terdapat 13 jiwa, termasuk mereka yang membantu mengerjakan lahan sebagai persiapan menyongsong musim tanam,” kata Gela. (pet)
Sumber : Pos Kupang




























































